Thursday, February 25, 2016

Mengarungi Waduk Gajah Mungkur dengan Perahu

Apa sih kriteria obyek wisata yang cocok untuk rekreasi keluarga? Yang pasti lokasinya dekat dengan rumah, mudah dijangkau, fasilitas pendukung wisatanya memadai, banyak tersedia warung makan, dan yang penting menyenangkan ! Jika kamu tinggal di daerah Surakarta dan sekitarnya, mesti sudah tidak asing dengan obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri bukan?

Berwisata bersama keluarga tentu saja harus memperhatikan beberapa hal agar agenda rekreasi bersama menjadi menyenangkan. Satu hal yang pasti, berwisata bersama keluarga tentu saja harus memperhatikan lokasi, terutama lokasi-lokasi yang mudah dijangkau dan tidak memerlukan banyak tenaga untuk dapat sampai di sana. Jika kamu tinggal di daerah Surakarta dan sekitarnya, tentu saja sudah tidak asing dengan keberadaan Waduk Gajah Mungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri. Kota yang terkenal dengan julukan Kota Gaplek ini memiliki sebuah tempat wisata berupa bendungan buatan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk menghabiskan akhir pekan.

Pemandangan di sekitar dermaga perahu Waduk Gajah Mungkur
Waduk Gajah Mungkur memiliki luas sekitar wilayah sekitar 8.800 hektar. Pembangunan waduk ini dimulai sekitar tahun 1970-an dengan "mengorbankan" luas wilayah sekitar 51 desa di 7 kecamatan. Pembangunan Waduk Gajah Mungkur bertujuan untuk pengendali banjir di Sungai Bengawan Solo. Selain sebagai pengendali banjir, Waduk Gajah Mungkur ini juga memiliki fungsi yang beragam, antara lain sebagai sumber irigasi lahan pertanian, sumber pembangkit listrik tenaga air, karamba untuk budidaya ikan air tawar, lahan pertanian musiman, dan juga sebagai obyek wisata yang kini menjadi salah satu ikon pariwisata di Kabupaten Wonogiri.

Friday, February 19, 2016

Tragedi Loncat dari Shuttle Bus di Banyuwangi

Saya jarang sekali menceritakan pengalaman pahit atau boleh dibilang "sisi gelap" perjalanan yang saya lakukan di dalam blog ini. Terkadang, dalam sebuah perjalanan itu memang tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan rencana. Terkadang ada pengalaman-pengalaman yang mengesalkan, tak jarang juga terdapat pengalaman yang mendebarkan dalam setiap perjalanan yang pernah kita lakukan. Namun, semuanya akan menjadi cerita yang mengesankan untuk kita kenang.

Awal Mei 2015.

Pagi ini saya berjanji untuk bertemu dengan seorang kawan dari Jakarta di Stasiun Gubeng Surabaya. Kami merencanakan untuk melakukan perjalanan bersama menuju Taman Nasional Baluran. Seperti biasa, rute perjalanan yang akan kami lalui adalah menuju Kota Banyuwangi terlebih dahulu menggunakan jasa kereta lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus.. Rencana perjalanan sudah kami susun sedemikian rupa, namun sekitar satu jam sebelum keberangkatan kereta, ada selentingan kabar jika jadwal keberangkatan akan mengalami keterlambatan karena banjir yang menggenangi jalur kereta di daerah Porong, Sidoarjo.

Hotel Mahkota, Genteng, Banyuwangi, tempat kami menginap setelah perjalanan panjang
Kami berdua harap-harap cemas menanti kabar kepastian keberangkatan kereta yang akan membawa kami ke Banyuwangi. Penumpang kereta Bima tujuan Jakarta-Malang yang tiba pagi itu pun juga belum mendapat kepastian kabar untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Malang. Suasana tegang jelas terlihat di pintu keberangkatan, di mana para penumpang menunggu kepastian tentang jadwal keberangkatan kereta, terutama kereta-kereta yang melewati jalur Porong. Kereta Mutiara Timur Pagi yang akan kami gunakan pun juga tak luput dari ketidakjelasan jadwal pemberangkatan karena masih menunggu informasi tentang rute jalur di Porong.

Tuesday, February 16, 2016

13 Jam Bersama Kereta Logawa

Melihat berita banjir yang melanda kawasan Jawa Timur, khususnya yang melanda daerah Porong, Sidoarjo, mengingatkan saya tentang perjalanan menggunakan jasa kereta api pada awal 2014 silam. Perjalanan pulang dari Probolinggo menuju Jogja menggunakan jasa kereta api Logawa setelah mengikuti rangkaian acara Tour De Probolinggo. Perjalanan darat yang seharusnya memakan waktu sekitar delapan jam perjalanan, namun akhirnya harus molor menjadi tiga belas jam lamanya. Ya, semua dikarenakan banjir yang menggenangi jalur rel kereta di daerah Porong-Tanggulangin  yang notabennya merupakan daerah aliran lumpur Lapindo sehingga jalur tersebut tidak dapat dilewati oleh kereta.


Pagi itu, saya bersama lima orang teman rombongan dari Jogja dan Solo berencana pulang menggunakan kereta Logawa dari Kota Probolinggo. Waktu itu sekitar awal bulan Februari 2014, di mana hujan mulai intens mengguyur daerah-daerah di Jawa. Perjalanan pulang dari Kota Probolinggo pun berjalanan lancar tanpa hambatan. Kereta Logawa yang kami gunakan datang tepat waktu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Perjalanan menggunakan kereta ekonomi ini terasa menyenangkan. Gerbong kereta yang cukup nyaman dengan tambahan fasilitas pendingin ruangan, kondisi di dalam gerbong kereta yang bersih, serta para penumpang yang terlihat tertib sesuai peraturan membuat perjalanan kali ini terasa cukup nyaman. Sepanjang perjalanan saya bersama kawan tak henti-hentinya bercengkrama mengingat kembali cerita selama mengikuti acara Tour De Probolinggo tersebut.

Wednesday, February 3, 2016

Printilan-Printilan yang Saya Bawa Saat Traveling

Memiliki hobi traveling membuat saya sedikit demi sedikit mulai mengumpukan perintilan-perintilan yang saya gunakan untuk kegiatan jalan-jalan. Saya termasuk orang yang cukup detail saat membawa barang untuk bepergian. Maka tak heran jika barang bawaan saya terkadang terlihat begitu banyak dibandingkan dengan teman-teman seperjalanan dan terkesan kurang ringkas dalam mengemasi barang. Prinsip saya sih, lebih baik well prepared daripada nanti keteteran di jalan karena ada sesuatu yang ketinggalan. 

Nah, seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal beberapa printilan barang yang bermanfaat digunakan selama melakukan perjalanan. Apa saja perintilan-perintilan yang biasa saya gunakan untuk melakukan perjalanan? Ini dia list barang yang biasa saya bawa :

1. Tas Ransel
Nah, selama saya bepergian, saya lebih memilih menggunakan tas ransel dibandingkan membawa koper. Alasannya adalah membawa tas backpack bagi saya lebih praktis daripada membawa koper. Terlebih lagi saya termasuk orang yang lebih banyak menggunakan jasa transportasi umum seperti bus antar kota, kereta, maupun angkot dan ojek untuk melakukan mobilisasi. Nah, saya memiliki dua buah tas ransel yang saya gunakan dalam perjalanan. Keduanya sih saya sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk bepergian selama tiga atau 5 hari, saya memilih menggunakan tas ransel berukuran kurang lebih 20-25 liter. Tas ransel dengan ukuran tersebut sudah pas untuk mengakomodir barang bawaan saya selama perjalanan. Nah, untuk kegiatan naik gunung, saya memilih menggunakan tas carrier karena daya tampungnya lebih banyak. Tau sendiri kan naik gunung membutuhkan persiapan yang lebih matang dan barang bawaan yang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan jalan-jalan di daerah perkotaan, pantai dan sebagainya. Untuk tas ransel saya tidak memiliki kriteria khusus sih, yang penting nyaman dikenakan, bahannya cukup tebal, dan bagian bantalan bahu pilih bahan yang empuk agar tidak sakit saat digunakan untuk memikul beban di dalam tas.

Tas ransel yang biasa saya gunakan untuk bepergian keluar kota
2. Tas Selempang Kecil
Barang berikutnya yang wajib saya bawa adalah tas selempang kecil. Fungsinya sih untuk meletakkan kamera, alat tulis, blocknote, handphone, dan tentu saja sejumlah uang yang saya gunakan untuk membayar karcis selama perjalanan. Tak lupa juga saya membawa uang kecil untuk berjaga-jaga ada pengamen atau untuk membayar jasa toilet saat perjalanan. Untuk dompet dan surat-surat berharga lainnya saya letakkan di tas ransel biasanya. Nah, untuk data diri seperti KTP biasanya saya letakkan di tas selempang kecil ini agar lebih praktis mencarinya ketika akan digunakan seperti untuk cek in tiket kereta api, atau pemeriksaan di pelabuhan. Saya termasuk orang yang malas mengantongi dompet atau uang di bagian saku celana sih, karena saya merasa kurang praktis dan menjadikan kurang nyaman bergerak jika harus mengantongi barang-barang tersebut di saku celana. Jadi keberadaan tas selempang kecil ini cukup membantu untuk membawa barang-barang dengan ukuran kecil yang dibutuhkan selama perjalanan.

Tuesday, February 2, 2016

Umbul Sidomukti - Kolam Pemandian dengan Latar Perbukitan

Kolam pemandian terbuka dengan suasana latar belakang perbukitan menjadi daya tarik tersendiri di Umbul Sidomukti ini. Segarnya air yang berasal dari sumber mata air pegunungan dipadu dengan udara bersih nan sejuk, membuat siapa saja ingin menikmati kesegaran air di kolam pemandian terbuka. Lokasinya yang berada di ketinggian perbukitan, seolah memberi sensasi seperti sedang berenang di atas awan.



Kabut tipis menyambut kedatangan saya ketika memasuki kawasan wisata Umbul Sidomukti di daerah Bandungan. Perjalanan menuju Umbul Sidomukti memang cukup menantang, jalan sempit melintasi perkampungan yang sesekali melewati area jurang memang mengharuskan pengemudi untuk selalu ekstra waspada selama perjalanan. Belum lagi jika harus terjadi simpangan antar kendaraan roda empat, salah satu pun harus mengalah karena jalanan yang dilalui cukup sempit. Ditambah dengan tanjakan-tanjakan yang curam serta kelokan tajam siap memompa adrenalin untuk menuju kawasan wisata ini. Namun, semua "kengerian" tersebut terbayar lunas dengan pemandangan alam yang disajikan sepanjang perjalanan. Kebun sayur milik warga yang nampak subur, tanaman cabai dan buncis yang terlihat menggoda, serta aktivitas para petani yang sibuk menggarap ladang menjadi pemandangan menarik sepanjang perjalanan menuju kawasan umbul.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com