Friday, December 9, 2016

Ayam Betutu Men Tempeh Gilimanuk yang Melegenda

Matahari sudah pulang ke peraduan saat lapal feri yang saya tumpangi sedang antri untuk merapat di dermaga pelabuhan. Hari sudah menjelang petang ditemani rintik hujan gerimis yang turun dari awan. Saya dan beberapa kawan segera bergegas turun dari kapal sesaat setelah kapal berhasil merapat. Ditemani riuhnya rombongan siswa peserta study tour yang satu kapal, kami berjalan menyisiri lorong pejalan kaki yang terlihat masih sepi.


Saya sempat celingukan saat menginjakkan kaki di ruang kedatangan Pelabuhan Gilimanuk. Petang itu kegiatan penyeberangan agak sedikit lengang. Antrian kendaraan dan penumpang yang akan menggunakan jasa kapal penyeberangan tidak terlalu padat seperti biasa.

Jasa ojek yang biasa mangkal di area pelabuhan pun juga tak terlihat menawarkan jasa. Kami pun melanjutkan langkah kaki dan menemukan jasa ojek motor setelah melewati pos pengecekan KTP untuk masuk area Bali.

Setelah tawar menawar harga, akhirnya saya pun diantarkan jasa ojek motor ini menuju warung makan ayam betutu Men Tempeh, salah watu warung ayam betutu yang terkenal di wilayah Gilimanuk.

Sunday, November 13, 2016

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi 2016 - Sak Corot Dadi Seduluran !

Kesibukan menjelang perhelatan acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu nampak terlihat dari warga Desa Kemiren yang mulai beramai-ramai membersihkan bagian halaman depan rumah, menata meja dan kursi dengan rapi, memasang lampu hias untuk menambah semarak suasana di malam hari. Tak lupa musik khas Banyuwangian diperdengarkan melalui pengeras suara yang semakin menambah meriah suasana desa.


Suasana meriah begitu kental terasa di sepanjang jalan utama Desa Kemiren petang itu. Seluruh penduduk desa nampak sibuk membersihkan halaman depan rumah sambil menata meja dan kursi untuk menyambut tamu yang akan hadir dalam acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Desa Kemiren, desa adat masyarakat Using, suku asli Banyuwangi.

Hampir seluruh ruas jalan utama di Desa Kemiren sudah ditutup aksesnya untuk kendaraan bermotor sejak menjelang petang guna menyambut acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang akan digelar malam ini. Jalan desa sepanjang kurang lebih 1.5 kilometer ini akan steril dari kendaraan bermotor sehingga pengunjung dapat leluasa berjalan kaki sepanjang jalan desa untuk menikmati Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang memasuki tahun keempat penyelenggaraannya tahun ini.

Saturday, October 8, 2016

Sarapan Nasi Liwet Bu Sri di Pasar Gede Solo

Solo menjadi salah satu kota yang cukup ngangenin bagi saya. Selain ritme kehidupan dan nuansa kotanya, kuliner tradisionalnya yang khas juga menjadi alasan saya untuk selalu kembali menyambangi kota ini. 

Suasana pagi di Kota Solo pagi itu terasa begitu syahdu. Mendung tipis menggelayut di antara mega. Pagi itu saya janjian bertemu dengan kawan di kawasan Pasar Gede Solo, sekalian sarapan pagi dan mencari beberapa jajajan tradisional. Dari Hotel Loji, saya sengaja memilih menggunakan transportasi becak agar lebih bisa menikmati suasana pagi di Kota Solo ini. Jalanan di Solo pagi itu terasa cukup ramai dengan lalu-lalang kendaraan yang menuju ke tempat kerja. Beberapa pedagang sudah nampak sibuk membuka toko dan membenahi lapak dagangan mereka. Akhirnya, setelah sepuluh menit perjalanan saya pun tiba di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro.


Sesuai dengan instruksi kawan, saya pun menanti kedatangannya tepat di area pintu masuk pasar. Nampak para penjual dan pembeli sudah sibuk dengan kegiatan jual-beli. Oh, iya, saya ingat, di dekat pintu masuk pasar ini biasanya terdapat penjual pecel ndeso yang enak itu. Sayang, setelah saya berkeliling dan bertanya kepada tukang parkir, saya mendapatkan informasi jika beliau sedang tidak berjualan hari ini. "Duh mas, kalau pecel ndeso biasanya hanya jualan hari Sabtu dan Minggu, kalau hari biasa gini beliau tidak jualan", jelas bapak tukang parkir yang berjaga di sekitar pintu masuk pasar. Ketika saya sedang asyik mengamati lapak pedagang di dekat pintu masuk pasar, kawan saya pun datang menghampiri. "Yuk, cobain nasi liwet, rasanya gak kalah enak sama yang di Keprabon !" ajaknya pagi itu.

Saturday, September 24, 2016

Kampung Coklat Blitar - Nongkrong Asyik di Bawah Rindangnya Perkebunan Coklat

Tak hanya memiliki wisata sejarah dan wisata alam yang menarik untuk ditelusuri, Blitar juga memiliki wisata edukasi yang menarik untuk dikunjungi. Adalah Kampung Coklat, salah satu destinasi wisata yang kini sedang naik daun di Kabupaten Blitar. Konsep nongkrong cantik sambil menikmati hidangan cokelat langsung di area perkebunan menjadi daya tarik dari kampung wisata ini.

Plesiran ke Kampung Coklat Blitar menjadi salah satu agenda perjalanan saya mengunjungi Bumi Patria ini. Kampung Coklat digadang-gadang menjadi salah satu tempat wisata yang sedang hits di kabupaten ini. Ditemani seorang kawan yang berdomisili di Blitar, saya pun diajak menikmati keunikan dari Kampung Coklat ini. Kampung Coklat berlokasi di daerah Kademangan, sekitar dua puluh menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Blitar. 


Kesan pertama ketika tiba di kawasan Kampung Coklat adalah perasaan aneh. Bayangan saya tentang Kampung Coklat adalah suasana perkebunan di alam terbuka seperti suasana di agrowisata apel yang ada di Kota Batu sana. Tapi, Kampung Coklat memiliki keuinikan tersendiri dan terkesan agak nyeleneh menurut saya. Di bagian depan, kita akan disambut dengan baliho besar dan bangunan kios yang mirip seperti sebuah pertokoan. Dari samping "pertokoan" inilah langkah kita digiring memasuki lorong besar yang dijadikan sebagai gudang penyimpanan biji cokelat hasil panen perkebunan sekaligus tempat penjemuran biji-biji cokelat tersebut. Aroma cokelat yang khas pun langsung semerbak tercium oleh hidung ketika melewati lorong besar ini.

Wednesday, August 24, 2016

Main Sebentar Menikmati Kemegahan Candi Penataran

Ada keasyikan tersendiri ketika menjelajahi bongkahan-bongkahan batuan andesit yang tertata membentuk bangunan megah penuh nilai sejarah. Imajinasi saya seolah tergelitik, serasa diajak untuk kembali menyusuri dan menikmati suasana kejayaan kerajaan Hindu di bumi nusantara.



Dua puluh menit perjalanan menggunakan jasa ojek motor terasa berlalu begitu saja. Pemandangan hamparan persawahan dengan udara sejuk membuat perjalanan dari Kota Blitar menuju Candi Penataran pagi ini terasa menyenangkan. Tak terasa, saya pun tiba di kompleks Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Suasana tenang dan sejuk khas pedesaan di kawasan lereng Gunung Kelud ini cukup kental terasa ketika menapakkan kaki di daerah Penataran ini.

Monday, August 1, 2016

Romantisme Dalam Secangkir Kopi Jo

Lapak yang cukup unik dan nyentrik berhasil mengalihkan pandangan saya ketika berjalan-jalan di acara Pasar Kangen Jogja 2016. Lapak terbuat dari kayu besar dengan kuali gerabah yang dipanasi dengan tungku berisi arang menjadi pemandangan menarik di stand ini. Cangkir enamel berbahan seng digantung di sisi atas lapak semakin menambah suasana meriah. Aroma wangi yang khas pun langsung semerbak tercium begitu mendekati stand ini. Kopi Jo, salah satu stand yang menjual kopi dan teh tarik dengan aroma dan cita rasa yang khas, yang hanya bisa ditemui pada event-event tertentu saja yang digelar di Yogyakarta.


Adalah Johanes Joana Jaya dan Olivia, sepasang suami istri pemilik kedai Kopi Jo ini. Om Jo dan Tante Oliv, begitu sapaan akrab pemilik Kopi Jo ini, dengan ramah dan sigap melayani langsung pembeli yang memesan minuman di kedai ini. Menu andalan mereka adalah kopi dan teh tarik. Keistimewaan Kopi Jo tentu saja dari racikan. Kopi dan teh yang disajikan dicampur dengan rempah-rempah tertentu sehingga menghasilkan aroma yang khas. "Untuk menu kopi, biasanya kami menggunakan campuran kopi, susu dan resep rahasia !", begitu kilah Om Jo ketika berbincang dengan para pembeli yang bertanya tentang bahan apa saja yang digunakan untuk meracik kopi buatannya.

Monday, July 11, 2016

Rumah Makan Inggil Malang - Tempat Makan Nyeni di Bumi Arema

"Restonya sudah buka mas?" "Oh, sebentar lagi mas, silahkan tunggu dulu di serambi samping ini, kami sedang siap-siap, sepuluh menit lagi buka", sambut seorang mas-mas pegawai Rumah Makan Inggil yang nampak masih membersihkan bagian depan rumah makan tersebut.

Sembari meletakkan tas ransel di bagian serambi, saya pun mencoba menengok ke salah satu ruangan yang berada di bagian depan rumah makan tersebut. Nampak sebuah ruang yang tak seberapa luas, dengan lantai yang menggunakan tegel yang bermotif khas, serta deretan meja panjang dengan kursi rotan yang menggunakan rangka besi yang unik.

Ruangan ini semakin terasa "nyeni" dengan hiasan tempat kaset pita. Kaset pita dengan berbagai genre musik ditata rapi memenuhi dinding ruangan, seakan-akan menjadi wallpaper yang menghiasi bagian sisi dinding ruangan. Sebuah konsep yang menarik menurut saya.

Saking asyiknya menikmati bagian ruangan depan, tak terasa akhirnya Rumah Makan Inggil ini pun buka siap melayani pembeli yang datang. Oke, saatnya untuk mencoba masakannya dan menikmati suasana yang disajikan di Rumah Makan Inggil Malang ini.

Suasana
Nyeni dan klasik, kesan pertama yang saya rasakan ketika memasuki bagian dalam ruangan di Rumah Makan Inggil ini. Konsep yang cukup nyentrik terlihat dari arsitektur bangunan serta dekorasi ruangan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Rumah Makan Inggil jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain.

Memasuki bagian dalam Rumah Makan Inggil ini serasa diajak untuk memasuki sebuah lorong waktu untuk menikmati nuansa klasik tempo dulu. Daun pintu kayu berwarna abu-abu bernuansa jadul seolah mengajak kita untuk memasuki sebuah lorong di mana sisi kanan dan kiri dinding terdapat pajangan foto-foto beserta keterangan tentang suasana Kota Malang tempo dulu.

Kemudian, di ujung lorong, kita akan disambut dengan hiasan topeng kayu yang digunakan dalam pementasan Tari Topeng khas Malang yang ditata dalam sebuah instalasi yang dibentuk melengkung, yang seolah menjadi sekat pembatas antara bagian lorong dengan ruang utama di rumah makan ini.

Tuesday, June 28, 2016

Destinasi Wisata Menarik di Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur

Kawasan Jawa Timur menyimpan potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Ada berbagai pilihan wisata sesuai dengan minat kalian, baik wisata alam, wisata budaya, wisata religi, hingga wisata kuliner yang siap memanjakan indera perasa. Ada sebuah kawasan di Jawa Timur yang terkenal dengan julukan Kawasan Tapal Kuda. Kawasan Tapal Kuda merupakan wilayah yang meliputi Kabupaten Pasuruhan, Probolinggo,  Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondosowo. Disebut kawasan Tapal Kuda karena di dalam peta, kawasan-kawaan tersebut membentuk pola seperti tapal kuda ketika dilihat di dalam peta.


Kawasan Tapal Kuda memiliki pola penduduk yang unik. Kawasan ini didominasi oleh Suku Madura yang bermukin di pesisir utara dan Suku Jawa yang sebagian besar menduduki wilayah selatan. Percampuran budaya Madura, Jawa, dan Islam yang cukup kental membentuk kebudayaan baru yang disebut dengan kebudayaan Pandalungan. Ciri khas kebudayaan Pandalungan ini tercermin dari keseharian masyarakat yang menggunakan dasar-dasar ke-Islam-an yang cukup kental dalam keseharian masyarakat, terutama dalam kesenian dan pola hidup sehari-hari.

Dilihat dari segi pariwisata, kawasan Tapal Kuda ini memiliki banyak menyimpan potensi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Sebut saja Kawasan Bromo, Air Terjun Madakaripura, Meru Betiri, Alas Purwo, dan sebagainya.  Lalu, mana saja lokasi wisata yang menarik dan akses yang mudah untuk dikunjungi? Yuk jelajahi !

Monday, June 20, 2016

Minggu Sore di Masjid Agung Jawa Tengah

Wisata religi bisa menjadi alternatif pilihan wisata yang menyenangkan untuk dikunjungi. Menikmati keindahan bangunan peribadatan, mengamati kegiatan pengunjung yang lalu-lalang, atau memanjatkan doa kepada Gusti Agung di tempat ibadah yang dikunjungi bisa membawa pengalaman tersendiri ketika berwisata religi.


Ada kesan tersendiri ketika melakukan wisata bertemakan religi. Suasana hening, ketenangan yang saya rasakan di dalam batin, serta suasana damai yang menyelimuti tempat ibadah yang terasa indah. Seiring perkembangan jaman, banyak tempat ibadah yang juga difungsikan sebagai tempat wisata, entah karena keunikan arsitektur bangunannya, sejarah yang melatarbelakangi adanya bangunan peribadahan tersebut, tokoh pejuang agama yang dimakamkan di sana, maupun suasana bangunan yang menarik perhatian orang untuk mengunjunginya. Sebagai salah satu pusat perdagangan internasional di masa lampau, Kota Semarang cukup kental dengan akulturasi budaya termasuk dengan keragaman agama di sana. Tak sulit menemukan tempat-tempat wisata bertemakan religi di Kota Loenpia. Salah satu lokasi wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang diresmikan pada tahun 2006 ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Keindahan arsitektur bangunan yang dipadu dengan pemandangan alam di sekitar masjid menjadi gimmick tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke sana.

Saturday, June 11, 2016

Pecel Mbok Bari yang Terkenal Seantero Blitar

Mengunjungi sebuah kota baru, tidak lengkap rasanya jika tidak mampir icip-icip kuliner khas dari kota itu. Seperti Kota Blitar, kota yang melekat dengan image Sang Proklamator ini memiliki beberapa kuliner terkenal yang sayang jika dilewatkan. Salah satu sajian yang terkenal di Kota Blitar adalah Pecel Mbok Bari yang kini dikelola oleh anak-anaknya dan memiliki banyak cabang di Kota Patria ini. Nasi Pecel Mbok Bari ini sudah ada sejak tahun 1940-an dan menjadi langganan Bung Karno dan keluarganya. Maka tak heran, jika keberadaan Pecel Mbok Bari ini sangat terkenal di Kota Blitar.


Pagi itu saya diantar oleh seorang kawan menuju Warung Pecel Mbok Bari 6 yang berada di sekitar Kompleks Makan Bung Karno, tepatnya di sekitar utara makam. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Berada di kompleks kios cinderamata, tepatnya di Jalan Ir Soekarno No 93 Blitar. Warung Mbok Bari 6 ini tidak seberapa luas, namun tempatnya cukup bersih dan rapi. Setibanya di dalam warung, saya pun langsung memesan nasi pecel dan teh hangat manis. Selain menu nasi pecel, warung Mbok Bari juga menyediakan berbagai macam lauk-pauk dan sayur yang dikonsumsi setiap hari. Ada sayur lodeh, oseng-oseng, terong balado, gulai ikan, sayur terik (tempe, tahu dan ayam yang dibumbu kuah kuning), dan beberapa pilihan menu lain. Tampilannya pun cukup menggoda untuk dicoba.

Sunday, June 5, 2016

Perjalanan dari Jogja Menuju Pantai Pulau Merah, Banyuwangi

Gencarnya promosi pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang sukses membuat jumlah kunjungan wisatawan meningkat. Banyak obyek wisata di Banyuwangi yang dipromosikan. Pantai Pulau Merah misalnya, pantai yang menjadi salah satu ikon pariwisata Banyuwangi ini selalu menyedot jumlah kunjungan wisatawan untuk berwisata ke Banyuwangi.

Saya harus mengakui jika Pemerintah Banyuwangi benar-benar serius untuk menggarap potensi pariwisata yang mereka miliki. Akses jalan menuju tempat wisata misalnya, sudah dibuat bagus lengkap dengan petunjuk arah yang memudahkan wisatawan untuk menuju ke lokasi. Namun harus diakui juga jika akses transportasi umum untuk menuju beberapa lokasi wisata di sana masih minim jumlahnya.


Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi informasi mengenai akses transportasi umum untuk menuju Pantai Pulau Merah yang sangat tersohor keberadaannya di Kabupaten Banyuwangi. Saya sempat mengalami masa-masa di mana saya merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi mengenai rute kendaraan umum untuk menuju Pantai Pulau Merah. Nah, saya akan memberi sedikit ulasan mengenai akses transportasi untuk menuju ke sana berdasarkan pengalaman saya ! Selamat membaca !

Friday, June 3, 2016

#KelasHeritage : Berkenalan Lebih Dekat Dengan Candi Borobudur

Siapa yang tak mengenal Candi Borobudur? Candi Budha terbesar di dunia ini sangat tersohor keberadaannya, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Kemegahan bangunan, keindahan relief dan arcanya, serta keluhuran nilai seni dan sejarahnya menjadikan Candi Borobudur ini ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO. Keberadaan Candi Borobudur juga tak lepas dengan kegiatan pariwisata. Bahkan, Candi Borobudur banyak dijadikan sebagai salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi ketika berwisata di Indonesia, khususnya bagi wisatawan yang sedang singgah di Kota Jogja dan sekitarnya. Secara administratif, Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun banyak orang yang salah kaprah mengira Candi Borobudur berada di wilayah Yogyakarta karena lokasinya yang tergolong dekat dengan Kota Gudeg ini. Saya sudah beberapa kali mengunjungi Borobudur. Sekedar bertamasya, mengambil gambar dengan kamera, dan juga melakukan penelitian sosial di kawasan wisata Candi Borobudur ini ketika duduk di bangku perkuliahan dulu.


Namun, semenjak saya mengikuti acara #KelasHeritage yang diadakan oleh Komunitas Yogyakarta Night At The Museum kemarin (29/5), saya mulai sadar dan mempelajari banyak hal tentang Candi Borobudur sendiri. Bahwasanya candi bukan hanya sekedar tempat monumental yang digunakan untuk tamasya atau berfoto semata, melainkan juga sebagai tempat ibadah pemeluk agama Budha dan yang paling penting sebagai generasi muda adalah kita harus belajar bagaimana menjaga dan melestarikan keberadaan candi ini sebagai sebuah warisan budaya untuk generasi anak cucu kita kelak.

Thursday, May 26, 2016

Pantai Pancer - Menelisik Perkampungan Nelayan Lokal Pesisir Selatan Banyuwangi

Sebuah perjalanan memang butuh perencanaan. Namun, kadangkala hal-hal di luar rencana justru membuat perjalanan kita lebih menarik dan penuh cerita. Berawal dari iseng susur pantai, akhirnya menemukan sebuah perkampungan nelayan dengan kesibukan bongkar muat hasil tangkapan semalam.

Udara dingin menyapa kami di Pantai Pulau Merah pagi ini. Suasana masih sunyi senyap dari hiruk-pikuk manusia. Hanya terdengar suara ombak yang sesekali menghempas ke daratan dan beberapa anjing berlarian. Di sekitar pantai sudah terlihat satu dua warung yang masih buka dan melayani pengunjung yang memesan segelas kopi dan mie instan untuk menghalau udara dingin. Hingar bingar panggung hiburan semalam seolah sirna saat orang-orang kembali menikmati peraduan dan terlelap dalam tidurnya.


Syahdu, menikmati suasana pagi ditemani suara hempasan ombak yang menghujam daratan. Senyap, karena pagi itu suasana masih gelap. Tak ada orang yang berlalu-lalang karena masih terlelap. Duduk di atas pasir pantai sambil menikmati suasana pagi, ditemani kerlipan lampu perahu nelayan yang berada di seberang sana. Saya berbincang bersama seorang kawan, tentang pekerjaan, tentang kehidupan, dan tentang impian. Tiba-tiba obrolan random kami buyar di saat orang-orang datang ke pantai dan membuat keramaian. Mungkin mereka kegirangan, bangun pagi langsung disambut oleh hamparan pasir dan ombak pantai. Namun kegaduhan itu hanya berlangsung sebentar saat tiba-tiba turun hujan. Saya pun beranjak dan berteduh di salah satu payung besar yang masih terbuka, yang biasa disewakan bersama kursi malas di sana. Duduk terdiam sambil menerawang jauh ke tengah lautan, ah kenapa hujan tiba-tiba turun dengan deras pagi ini?

Saturday, May 21, 2016

Aksi Untuk Borobudur Bersama Komunitas Yogyakarta Night At The Museum

Candi Borobudur merupakan salah satu mahakarya Indonesia yang termasyur keberadaannya. Candi Budha terbesar di Indonesia yang berada di Kabupaten Magelang ini selalu menjadi primadona kunjungan wisatawan yang sedang bertandang di Jogja dan sekitarnya. Candi Borobudur memiliki fungsi yang beraneka ragam. Selain menjadi tempat wisata, Candi Borobudur merupakan bangunan suci dan tempat untuk melakukan ritual keagamaanbagi umat Budha. Candi Borobudur juga memiliki peran edukatif, selain menjadi tempat belajar sejarah, candi ini juga kerap digunakan untuk sarana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Karena fungsinya yang beragam, maka tak heran jika Candi Borobudur selalu ramai didatangi oleh pengunjung.


Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan peradaban masa lalu yang adi luhung. Keindahan bangunan dan reliefnya tentu sudah diakui dunia. Sebagai salah satu peninggalan penting di dunia, Candi Borobudur ditetapkan sabagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage) yang diresmikan oleh UNESCO pada tahun 1991 silam. Kini, hampir dua puluh lima tahun sudah Candi Borobudur resmi diakui UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage) yang wajib kita jaga keberadaannya.

Sunday, May 15, 2016

Sunset Tak Terduga di Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Terkadang terlalu memiliki ekspektasi lebih ketika mengunjungi sebuah lokasi wisata dapat menimbulkan rasa kecewa. Lokasi yang tidak sesuai dengan gambar-gambar fotogenik dan rangkaian kata-kata apik nan ciamik yang ada di katalog promosi wisata atau blog-blog yang bertebaran di dunia maya misalnya. Benar kata orang bilang, lebih baik nikmati saja perjalanan yang kamu lakukan, jangan berekspektasi lebih tentang lokasi yang akan kamu datangi agar kamu benar-benar bisa menikmati perjalanan itu sendiri.

Tahun 2016 ini menjadi perjalanan kedua saya kembali mengunjungi Pantai Pulau Merah atau dikenal dengan sebutan Red Island yang berada di Kabupaten Banyuwangi setelah kunjungan pertama saya di tahun 2015 lalu gagal karena tiba di Pantai Pulau Merah kemalaman. Di tahun 2016 ini saya pun kembali lagi ke sini, menuntaskan rasa penasaran saya akan pesona Pantai Pulau Merah. Pantai Pulau Merah merupakan salah satu destinasi wisata yang menjadi ikon pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Adanya promosi wisata yang gencar serta branding yang kuat, membuat pantai ini ramai oleh kunjungan wisatawan yang bertandang ke Banyuwangi. Pantai Pulau Merah berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi. Untuk menuju ke pantai ini dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari daerah Jajag. Akses jalan sudah dibangun cukup baik, namun akses transportasi umum masih relatif sulit. Cara terbaik menuju ke sana adalah menggunakan kendaraan pribadi, menyewa mobil, atau menggunakan jasa ojek motor dari Terminal Jajag.


Jasa ojek dari Terminal Jajag menjadi pilihan saya untuk menuju Pulau Merah ini. Nominal yang harus saya bayar memang cukup mahal, Rp 75.000,00 untuk sekali perjalanan, tapi menurut saya sepadan dengan jarak tempuh yang harus dilewati. Sore itu saya cukup was-was saat memulai perjalanan dari Terminal Jajag. Sepanjang perjalanan saya dibuat ketar-ketir dengan kondisi cuaca sore itu. Awan mendung menggelayut di langit, disertai rintik hujan gerimis yang turun membasahi sebagian perjalanan kami. Untung saja dewi fortuna masih memihak kepada kami. Cuaca pun berangsur-angsur cerah hingga kami tiba memasuki kawasan Pantai Pulau Merah. Pantai Pulau Merah terasa makin meriah karena kedatangan kami bertepatan dengan acara gathering salah satu merk motor yang mengundang para rider dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Perasaan ketar-ketir kembali menyelimuti. Kami khawatir tidak mendapatkan penginapan di sini, karena kami datang on the spot, tidak melakukan pemesanan kamar terlebih dahulu. Tapi untung, kami masih mendapatkan satu kamar kosong di Homestay Panjul yang berlokasi tidak jauh dari pintu masuk Pantai Pulau Merah.

Saturday, April 30, 2016

Soto Ayam Lamongan Cak Har, Surabaya yang Laris Gila !

Mungkin butuh waktu beberapa kali kunjungan ke Surabaya untuk bisa mencicipi semua kuliner-kuliner tradisional yang direkomendasikan di sana. Jika disuruh tinggal dua atau tiga hari di Surabaya untuk mencicipi seluruh kuliner tradisional di sana, bisa-bisa saya food coma sebelum selesai mencicipi semua. 

Surabaya benar-benar membuat saya jatuh hati karena kuliner tradisionalnya yang begitu beraneka rupa. Tak hanya beraneka rupa, harga makanan di sana pun cukup ramah bagi kantong dan tak perlu khawatir bikin jebol. Petualangan rasa di Surabaya dimulai dengan perkenalan saya dengan mbak Yantie (bisa cek twitternya di @YantieArie). Dari beliaulah saya dikenalkan dengan kuliner Surabaya yang memanjakan lidah. Penjelajahan kuliner di Surabaya kali ini membawa saya untuk mencicipi kelezatan Soto Ayam Lamongan Cak Har yang sangat terkenal di Kota Pahlawan ini.

Bagian pintu masuk utama di Warung Soto Ayam Cak Har
Warung Soto Cak Har berlokasi di daerah Merr, tak jauh dari kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Jika kalian melewati Jalan Ir. H. Soekarno dan melihat banyak mobil dan motor berjubel parkir di sana, sudah dipastikan itu adalah lokasi warung Soto Ayam Lamongan Cak Har yang terkenal itu. Kesan pertama memasuki warung soto ini adalah luas banget ! Iya, untuk ukuran sebuah warung soto, warung Soto Ayam Lamongan Cak Har ini tergolong super luas. Lebih terkesan sebagai tempat nongkrong daripada tempat jualan soto sih menurut saya. Jangan salah ya, walaupun tempatnya super luas dan memiliki daya tampung yang banyak, tapi warung Soto Ayam Lamongan Cak Har ini hampir tak pernah sepi oleh pembeli. Bahkan, di jam-jam tertentu terkadang kalian akan sulit menemukan tempat duduk yang kosong karena saking penuhnya dengan pembeli.

Wednesday, April 20, 2016

Pantai Payangan - Primadona Destinasi Wisata Baru di Jember Selatan

Namaku Pantai Payangan. Aku berlokasi di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Lokasiku cukup dekat dengan Pantai Papuma dan Watu Ulo. Namaku mulai berseliweran di laman sosial media sejak dua tahun belakangan. Karena foto-fotoku di laman sosial media terlihat menarik, maka banyak orang penasaran mendatangiku untuk membuktikan keindahanku.

Pesatnya perkembangan sosial media membawa dampak bagi berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pariwisata. Terbukanya destinasi-destinasi baru adalah salah satu dampak keberadaan sosial media yang kini cukup pesat dimanfaatkan oleh masyarakat. Perputaran arus informasi melalui sosial media, baik dari facebook, twitter, maupun blog semakin mempermudah orang untuk mendapatkan informasi mengenai tempat wisata baru yang selama ini belum banyak terekspos keberadaanya. Salah satu obyek wisata yang tergolong baru di Kabupaten Jember yang menjadi bahan perbincangan di laman sosial media adalah Pantai Payangan. Sekitar dua tahun belakangan, beberapa akun media sosial di Jember seperti @HaloAmbulu dan @PapumaJember cukup aktif membagian informasi mengenai Pantai Payangan. Di tahun 2016 ini, akhirnya saya pun berkesempatan untuk mampir menikmati keindahan Pantai Payangan. Ya, mumpung sedang di Jember, saya pun memutuskan untuk sekalian menjelajahi Pantai Payangan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Pantai Papuma dan Watu Ulo


Perjalanan dari Pantai Papuma menuju Pantai Payangan memakan waktu sekitar sepuluh menit menggunakan kendaraan bermotor. Jalanan menuju Payangan sudah diaspal, namun terlihat telah usang. Jalan menuju ke sana boleh dikatakan tidak terlalu halus, namun masih layak dilalui kendaraan. Tiba di kawasan Pantai Payangan, kami disambut oleh suara riuh penduduk lokal yang menawarkan jasa parkir kendaraan. Pantai Payangan selama ini masih dikelola oleh kelompok masyarakat setempat, belum diambil alih oleh Pemerintah Daerah. Ketika saya datang kemari, tidak ada biaya retribusi khusus untuk masuk ke lokasi. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan saja. Kami kemudian dipersilahkan oleh seorang bapak-bapak untuk mengambil jalan pintas melewati halaman belakang rumahnya. Benar saja, tepat setelah melewati halaman belakang rumahnya, kami langsung bertemu dengan hamparan pantai yang menghadap langsung ke samudera.

Sunday, April 3, 2016

Menyambut Pagi di Tanjung Papuma, Jember

Entah seperti memiliki alarm alami yang ada di dalam otak ini, setiap kali sedang melakukan perjalanan di luar kota, secara alami saya akan bangun pagi jauh sebelum adzan Subuh berkumandang dan mentari muncul dari peraduan. Iya, mungkin semesta sedang mendukung saya untuk menyambut pagi dan beranjak dari buaian mimpi.

Entah mengapa ketika saya sedang berada di luar kota, saya selalu bangun lebih awal dari waktu yang saya pasang pada alarm jam saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi, saya bangun 30 menit lebih awal dari alarm yang saya pasang tadi malam. Saya bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan diri menyambut pagi, kemudian menyibak gorden kamar dan melihat situasi di luar. Ah, masih sepi dan gelap. Saya bergegas membuka pintu dan melihat situasi di luar cottage. Kata mas penjaga kemarin, kalau menjelang Subuh seperti ini kami harus lebih berhati-hati, karena terkadang primata penghuni Papuma sedang "beraksi", hmmm berkeliaran di sekitar penginapan lebih tepatnya. Maklum saja, cottage yang dikelola di Pantai Papuma berlokasi di dekat hutan di mana primata-primata liar tersebut hidup bebas di sana.


Setelah situasi saya rasa kondusif, saya mengajak teman saya untuk bergegas menuju pantai guna menantikan terbitnya matahari pagi bersama. Sekitar pukul 04.30 kami pun keluar cottage dan berjalan kaki menuju ke pantai Papuma. Di luar dugaan saya, sudah terlihat beberapa orang berlalu-lalang menuju pantai untuk menantikan terbitnya mentari. Sebagian besar dari mereka adalah wisatawan yang tidak menyewa penginapan, melainkan tidur di dalam kendaraan yang mereka bawa. ada pula rombongan nelayan yang menanti kapal tiba setelah melaut semalaman. Suasana hening tiba-tiba berubah menjadi riuh. Pengunjung mulai berdatangan ke Pantai Papuma. Sorot lampu kendaraan mulai terlihat dari atas bukit. Kami berdua duduk di pasir pantai, menikmati semburat warna kemerahan di ufuk timur, sambil sesekali merasakan hembusan semilir angin pantai. Untunglah angin pantai di Papuma pagi itu tidak terlalu terasa kencang, jadi saya tidak terlalu khawatir jika masuk angin. Syahdu, rasanya saya sudah lama sekali tidak pernah bangun pagi untuk menanti terbitnya sang mentari.

Thursday, March 31, 2016

Food Coma di Warung Sederhana Tanjung Papuma

Sebagai salah satu tempat berlabuh dan berlayarnya para nelayan, Tanjung Papuma tentu menyediakan hidangan laut yang sayang untuk dilewatkan. Hidangan ikan laut yang segar siap menjadi teman bersantap di kala lapar. Puas menyantap hidangan laut, sebutir buah kelapa muda hijau pun siap menuntaskan dahaga Anda.

Tanjung Papuma memiliki deretan warung makan yang ditata dalam satu lokasi. Pengunjung yang ingin bersantap pun bisa memilih salah satu warung yang telah disediakan di sini. Rata-rata pengelola dan pemilik warung adalah warga masyarakat yang tinggal di sekitar Papuma dan Watu Ulo. Rata-rata warung makan di Papuma hanya buka dari pagi hingga sore saja, sedangkan ketika hari sudah beranjak malam, hanya terlihat satu dua warung saja yang masih buka melayani pelanggan.


Saya dan kawan saya mulai mencari warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Pengelola penginapan menyarankan kami untuk membeli makan di warung makan Evergreen yang lokasinya hanya berada di depan penginapan. Namun karena rasa penasaran, akhirnya kami berjalan kaki menuju deretan warung yang berada di sebelah selatan pantai. Pantai Papuma ketika malam terasa cukup gelap, walaupun sudah ada listrik masuk dan dipasang lampu penerangan di beberapa sudut jalan. Saya sarankan sih lebih baik Anda membawa lampu senter jika ingin jalan-jalan malam di Papuma. Terdapat dua buah warung yang masih buka malam itu, kemudian kami memilih untuk bersantap di Warung Sederhana yang dikelola Mbak Ul.

Wednesday, March 30, 2016

Menanti Senja di Tanjung Papuma

Ada satu alasan tersendiri mengapa saya kembali mengunjungi Papuma lagi. Pemandangan terbit dan tenggelamnya matahari di satu lokasi menjadi alasan saya untuk kembali menjelajahi pantai ini !

Selesai mengurus persewaan penginapan, saya pun bergegas untuk meletakkan barang dan berganti pakaian. Saya mengajak kawan saya untuk segera bersiap menuju Bukit Siti Hinggil, menanti terbenamnya matahari di ufuk barat. Papuma kini tentu saja berbeda dengan Papuma empat tahun lalu, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di pantai ini. Perbedaan yang kental terasa adalah jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat jumlahnya. Kendaraan baik roda empat maupun roda dua terlihat memenuhi bagian parkir kendaraan. Pun demikian dengan warung makan yang menjajakan makanan terlihat semakin banyak jumlahnya. Satu lagi, populasi primata yang dulu cukup mudah ditemui berkeliaran di sekitaran pantai kini sudah jarang ditemui. Menurut driver yang mengantar kami, populasi primata liar yang menghuni Papuma kini sudah berkurang banyak jumlahnya. Kondisinya juga cukup memprihatinkan, badan mereka terlihat kurus katanya. Ah, benar juga, kawanan primata yang dulu dengan mudah saya temui berkeliaran di sekitar pantai kini sudah jarang terlihat. Mungkin karena terdesak dengan jumlah pengunjung yang semakin banyak, maka primata tersebut memilih untuk masuk ke dalam hutan.


Jalan menuju kawasan Siti Hinggil dan Pantai Malikan sekarang sudah dibangun dengan baik. Jalan berupa paving block sudah dibuat rapi sehingga nyaman dilalui pejalan kaki maupun kendaraan yang lewat di sana. Kawasan Bukit Siti Hinggil sudah ramai dikunjungi wisatawan yang sedang menantikan datangnya senja. Di kawasan Bukit Siti Hinggil ini kita dapat menikmati pemandangan Pantai Malikan dari ketinggian dengan latar belakang Gunung Kajang yang menjadi ikon wisata Tanjung Papuma ini. Karena berada di atas ketinggian bukit yang langsung menghadap jurang, maka tak heran jika pengelola memasang pagar pembatas demi keselamatan pengunjung yang datang ke sana.

Tuesday, March 29, 2016

Kutepati Janji Untuk Kembali Lagi ke Papuma

Ada perasaan haru ketika kembali menjejakkan kaki ke lokasi yang pernah dikunjungi. Bernostalgia mengingat rute jalan yang dilewati, sambil melihat-lihat perubahan yang kini terjadi di sana-sini. Tanjung Papuma, akhirnya aku kembali lagi ke mari.

Terminal Tawang Alun menjadi titik pemberhentian saya siang ini. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 15.00 ketika saya tiba. Panas, udara yang saya rasakan setelah turun dari bus Akas Asri yang mengantarkan saya dari Kota Surabaya. Peluh keringat pun tak terbendung lagi, bercucuran membasahi wajah dan sekujur badan. Saya mencari warung makan yang berada di depan terminal, untuk mengisi perut sambil mengistirahatkan badan. Kali ini saya pergi dengan seorang kawan. Kami berunding untuk mencari jasa sewa kendaraan atau estafet menggunakan transportasi umum melalui rute perjalanan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Namun, mengingat waktu tempuh perjalanan dan terbatasnya waktu yang kami berdua akhirnya memilih untuk menggunakan jasa sewa kendaraan untuk mengantar kami ke Papuma.


Usai mendapatkan jasa kendaraan yang akan mengantar setelah tawar-menawar, kami pun segera memasukkan barang ke dalam bagasi dan memulai perjalanan. Kali ini kami melewati Jalan Dharmawangsa, kemudian belok ke arah Jalan Otto Iskandar Dinata, lalu lanjut ke arah Kecamatan Ambulu. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan hamparan persawahan, sesekali dengan latar belakang perbukitan. Hujan yang turun dalam perjalanan membuat saya sedikit khawatir, apa iya tujuan kami untuk melihat pemandangan matahari tenggelam akan terhalang oleh hujan? Saya pasrah, hanya bisa memandangi kaca pintu kendaraan yang basah oleh air hujan.

Friday, March 11, 2016

Hotel Patria Garden Blitar

Salah satu faktor yang menjadi perhitungan para pejalan ketika bepergian adalah masalah penginapan. Jika kita berkunjung ke sebuah kota yang notabennya menjadi kota tujuan wisata atau urusan bisnis, tentu saja akan lebih mudah mencari penginapan sesuai dengan fasilitas dan budget yang kita inginkan. Tapi, bagaimana jika kita bepergian ke sebuah kota kecil dan tak banyak pilihan tempat penginapan? Tentu akan menjadi pengalaman tersendiri ketika mencari penginapan sesuai dengan isi kantong bukan?

note : Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis, tidak ada unsur iklan atau kerja sama dengan pihak pengelola penginapan dalam penulisan review ini.


Perjalanan ke Kota Blitar menjadi pengalaman menarik bagi saya, terlebih tentang masalah penginapan yang akan saya gunakan untuk bermalam di kota tempat persemayaman terakhir Bung Karno, salah satu tokoh Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Dari hasil browsing di internet, saya menemukan beberapa penginapan yang lokasinya cukup strategis di tengah kota. Namun, setelah menghitung-hitung budget yang saya miliki, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil salah satu dari dua pilihan penginapan yang banyak direkomendasikan di internet, yaitu Hotel Patria Palace atau Hotel Patria Garden. Lalu saya bertanya kepada seorang kawan yang tinggal di Blitar. Dia merekomendasikan saya untuk memilih Hotel Patria Garden saja, menimbang dari fasilitas dan suasana yang ditawarkan.

Thursday, February 25, 2016

Mengarungi Waduk Gajah Mungkur dengan Perahu

Apa sih kriteria obyek wisata yang cocok untuk rekreasi keluarga? Yang pasti lokasinya dekat dengan rumah, mudah dijangkau, fasilitas pendukung wisatanya memadai, banyak tersedia warung makan, dan yang penting menyenangkan ! Jika kamu tinggal di daerah Surakarta dan sekitarnya, mesti sudah tidak asing dengan obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri bukan?

Berwisata bersama keluarga tentu saja harus memperhatikan beberapa hal agar agenda rekreasi bersama menjadi menyenangkan. Satu hal yang pasti, berwisata bersama keluarga tentu saja harus memperhatikan lokasi, terutama lokasi-lokasi yang mudah dijangkau dan tidak memerlukan banyak tenaga untuk dapat sampai di sana. Jika kamu tinggal di daerah Surakarta dan sekitarnya, tentu saja sudah tidak asing dengan keberadaan Waduk Gajah Mungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri. Kota yang terkenal dengan julukan Kota Gaplek ini memiliki sebuah tempat wisata berupa bendungan buatan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk menghabiskan akhir pekan.

Pemandangan di sekitar dermaga perahu Waduk Gajah Mungkur
Waduk Gajah Mungkur memiliki luas sekitar wilayah sekitar 8.800 hektar. Pembangunan waduk ini dimulai sekitar tahun 1970-an dengan "mengorbankan" luas wilayah sekitar 51 desa di 7 kecamatan. Pembangunan Waduk Gajah Mungkur bertujuan untuk pengendali banjir di Sungai Bengawan Solo. Selain sebagai pengendali banjir, Waduk Gajah Mungkur ini juga memiliki fungsi yang beragam, antara lain sebagai sumber irigasi lahan pertanian, sumber pembangkit listrik tenaga air, karamba untuk budidaya ikan air tawar, lahan pertanian musiman, dan juga sebagai obyek wisata yang kini menjadi salah satu ikon pariwisata di Kabupaten Wonogiri.

Friday, February 19, 2016

Tragedi Loncat dari Shuttle Bus di Banyuwangi

Saya jarang sekali menceritakan pengalaman pahit atau boleh dibilang "sisi gelap" perjalanan yang saya lakukan di dalam blog ini. Terkadang, dalam sebuah perjalanan itu memang tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan rencana. Terkadang ada pengalaman-pengalaman yang mengesalkan, tak jarang juga terdapat pengalaman yang mendebarkan dalam setiap perjalanan yang pernah kita lakukan. Namun, semuanya akan menjadi cerita yang mengesankan untuk kita kenang.

Awal Mei 2015.

Pagi ini saya berjanji untuk bertemu dengan seorang kawan dari Jakarta di Stasiun Gubeng Surabaya. Kami merencanakan untuk melakukan perjalanan bersama menuju Taman Nasional Baluran. Seperti biasa, rute perjalanan yang akan kami lalui adalah menuju Kota Banyuwangi terlebih dahulu menggunakan jasa kereta lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus.. Rencana perjalanan sudah kami susun sedemikian rupa, namun sekitar satu jam sebelum keberangkatan kereta, ada selentingan kabar jika jadwal keberangkatan akan mengalami keterlambatan karena banjir yang menggenangi jalur kereta di daerah Porong, Sidoarjo.

Hotel Mahkota, Genteng, Banyuwangi, tempat kami menginap setelah perjalanan panjang
Kami berdua harap-harap cemas menanti kabar kepastian keberangkatan kereta yang akan membawa kami ke Banyuwangi. Penumpang kereta Bima tujuan Jakarta-Malang yang tiba pagi itu pun juga belum mendapat kepastian kabar untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Malang. Suasana tegang jelas terlihat di pintu keberangkatan, di mana para penumpang menunggu kepastian tentang jadwal keberangkatan kereta, terutama kereta-kereta yang melewati jalur Porong. Kereta Mutiara Timur Pagi yang akan kami gunakan pun juga tak luput dari ketidakjelasan jadwal pemberangkatan karena masih menunggu informasi tentang rute jalur di Porong.

Tuesday, February 16, 2016

13 Jam Bersama Kereta Logawa

Melihat berita banjir yang melanda kawasan Jawa Timur, khususnya yang melanda daerah Porong, Sidoarjo, mengingatkan saya tentang perjalanan menggunakan jasa kereta api pada awal 2014 silam. Perjalanan pulang dari Probolinggo menuju Jogja menggunakan jasa kereta api Logawa setelah mengikuti rangkaian acara Tour De Probolinggo. Perjalanan darat yang seharusnya memakan waktu sekitar delapan jam perjalanan, namun akhirnya harus molor menjadi tiga belas jam lamanya. Ya, semua dikarenakan banjir yang menggenangi jalur rel kereta di daerah Porong-Tanggulangin  yang notabennya merupakan daerah aliran lumpur Lapindo sehingga jalur tersebut tidak dapat dilewati oleh kereta.


Pagi itu, saya bersama lima orang teman rombongan dari Jogja dan Solo berencana pulang menggunakan kereta Logawa dari Kota Probolinggo. Waktu itu sekitar awal bulan Februari 2014, di mana hujan mulai intens mengguyur daerah-daerah di Jawa. Perjalanan pulang dari Kota Probolinggo pun berjalanan lancar tanpa hambatan. Kereta Logawa yang kami gunakan datang tepat waktu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Perjalanan menggunakan kereta ekonomi ini terasa menyenangkan. Gerbong kereta yang cukup nyaman dengan tambahan fasilitas pendingin ruangan, kondisi di dalam gerbong kereta yang bersih, serta para penumpang yang terlihat tertib sesuai peraturan membuat perjalanan kali ini terasa cukup nyaman. Sepanjang perjalanan saya bersama kawan tak henti-hentinya bercengkrama mengingat kembali cerita selama mengikuti acara Tour De Probolinggo tersebut.

Wednesday, February 3, 2016

Printilan-Printilan yang Saya Bawa Saat Traveling

Memiliki hobi traveling membuat saya sedikit demi sedikit mulai mengumpukan perintilan-perintilan yang saya gunakan untuk kegiatan jalan-jalan. Saya termasuk orang yang cukup detail saat membawa barang untuk bepergian. Maka tak heran jika barang bawaan saya terkadang terlihat begitu banyak dibandingkan dengan teman-teman seperjalanan dan terkesan kurang ringkas dalam mengemasi barang. Prinsip saya sih, lebih baik well prepared daripada nanti keteteran di jalan karena ada sesuatu yang ketinggalan. 

Nah, seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal beberapa printilan barang yang bermanfaat digunakan selama melakukan perjalanan. Apa saja perintilan-perintilan yang biasa saya gunakan untuk melakukan perjalanan? Ini dia list barang yang biasa saya bawa :

1. Tas Ransel
Nah, selama saya bepergian, saya lebih memilih menggunakan tas ransel dibandingkan membawa koper. Alasannya adalah membawa tas backpack bagi saya lebih praktis daripada membawa koper. Terlebih lagi saya termasuk orang yang lebih banyak menggunakan jasa transportasi umum seperti bus antar kota, kereta, maupun angkot dan ojek untuk melakukan mobilisasi. Nah, saya memiliki dua buah tas ransel yang saya gunakan dalam perjalanan. Keduanya sih saya sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk bepergian selama tiga atau 5 hari, saya memilih menggunakan tas ransel berukuran kurang lebih 20-25 liter. Tas ransel dengan ukuran tersebut sudah pas untuk mengakomodir barang bawaan saya selama perjalanan. Nah, untuk kegiatan naik gunung, saya memilih menggunakan tas carrier karena daya tampungnya lebih banyak. Tau sendiri kan naik gunung membutuhkan persiapan yang lebih matang dan barang bawaan yang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan jalan-jalan di daerah perkotaan, pantai dan sebagainya. Untuk tas ransel saya tidak memiliki kriteria khusus sih, yang penting nyaman dikenakan, bahannya cukup tebal, dan bagian bantalan bahu pilih bahan yang empuk agar tidak sakit saat digunakan untuk memikul beban di dalam tas.

Tas ransel yang biasa saya gunakan untuk bepergian keluar kota
2. Tas Selempang Kecil
Barang berikutnya yang wajib saya bawa adalah tas selempang kecil. Fungsinya sih untuk meletakkan kamera, alat tulis, blocknote, handphone, dan tentu saja sejumlah uang yang saya gunakan untuk membayar karcis selama perjalanan. Tak lupa juga saya membawa uang kecil untuk berjaga-jaga ada pengamen atau untuk membayar jasa toilet saat perjalanan. Untuk dompet dan surat-surat berharga lainnya saya letakkan di tas ransel biasanya. Nah, untuk data diri seperti KTP biasanya saya letakkan di tas selempang kecil ini agar lebih praktis mencarinya ketika akan digunakan seperti untuk cek in tiket kereta api, atau pemeriksaan di pelabuhan. Saya termasuk orang yang malas mengantongi dompet atau uang di bagian saku celana sih, karena saya merasa kurang praktis dan menjadikan kurang nyaman bergerak jika harus mengantongi barang-barang tersebut di saku celana. Jadi keberadaan tas selempang kecil ini cukup membantu untuk membawa barang-barang dengan ukuran kecil yang dibutuhkan selama perjalanan.

Tuesday, February 2, 2016

Umbul Sidomukti - Kolam Pemandian dengan Latar Perbukitan

Kolam pemandian terbuka dengan suasana latar belakang perbukitan menjadi daya tarik tersendiri di Umbul Sidomukti ini. Segarnya air yang berasal dari sumber mata air pegunungan dipadu dengan udara bersih nan sejuk, membuat siapa saja ingin menikmati kesegaran air di kolam pemandian terbuka. Lokasinya yang berada di ketinggian perbukitan, seolah memberi sensasi seperti sedang berenang di atas awan.



Kabut tipis menyambut kedatangan saya ketika memasuki kawasan wisata Umbul Sidomukti di daerah Bandungan. Perjalanan menuju Umbul Sidomukti memang cukup menantang, jalan sempit melintasi perkampungan yang sesekali melewati area jurang memang mengharuskan pengemudi untuk selalu ekstra waspada selama perjalanan. Belum lagi jika harus terjadi simpangan antar kendaraan roda empat, salah satu pun harus mengalah karena jalanan yang dilalui cukup sempit. Ditambah dengan tanjakan-tanjakan yang curam serta kelokan tajam siap memompa adrenalin untuk menuju kawasan wisata ini. Namun, semua "kengerian" tersebut terbayar lunas dengan pemandangan alam yang disajikan sepanjang perjalanan. Kebun sayur milik warga yang nampak subur, tanaman cabai dan buncis yang terlihat menggoda, serta aktivitas para petani yang sibuk menggarap ladang menjadi pemandangan menarik sepanjang perjalanan menuju kawasan umbul.

Thursday, January 7, 2016

Menikmati Family Time di Kawasan Lembang, Bandung

Kawasan Lembang menjadi salah satu destinasi favorit untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga. Suasana yang tenang, pemandangan alam yang menyenangkan dengan nuansa hijau dan udara segar pegunungan, serta pilihan tempat wisata yang beragam membuat siapapun merasa nyaman menghabiskan waktu liburan di Kawasan Lembang. Lokasinya yang cukup dekat dengan Kota Bandung serta akses jalan serta transportasi yang mudah dijangkau, membuat Lembang selalu menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke Bumi Parahyangan.


Ada beberapa obyek wisata menarik yang cocok dijadikan sebagai lokasi berwisata bersama keluarga jika Anda sedang berkunjung di Kawasan Lembang. Mulai dari wisata alam, wisata petualangan, hingga wisata kuliner pun tersaji lengkap di Kawasan Lembang. Beberapa obyek wisata menarik yang dapat Anda kunjungi bersama keluarga tersebut antara lain adalah :

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com