Tuesday, November 25, 2014

(Terpaksa) Safari Malam di Baluran

Ini kali kedua saya mengunjungi Taman Nasional Baluran di tahun yang sama. Perjalanan pertama saya memang memberikan banyak kesan, namun masih menyisakan rasa penasaran akan suasana little Africa yang menjadi primadona. Kunjungan pertama saya di bulan Mei belum terlalu memberikan nuansa "Afrika" karena rerumputan dan pepohonan masih nampak cukup hijau. Kata Pak Iman, tukang ojek yang kami sewa jasanya waktu itu bercerita jika ingin mencicipi suasana gersang ala Afrika, datanglah pada musim kemarau yang jatuh sekitar bulan Oktober sampai November, di mana Baluran sedang kering-keringnya !

Negosiasi di Pintu Kedatangan
Kami tiba di Baluran jelang tengah malam. Kali ini saya merasa penjagaan di pintu gerbang cukup ketat dari kedatangan pertama saya. Kami pun bertanya mengenai kondisi di Baluran sekarang, apakah bisa dikunjungi oleh wisatawan, mengingat ada berita yang menyebutkan bahwa beberapa Taman Nasional di Indonesia mengalami kebakaran karena musim kemarau yang panjang sehingga akses untuk menuju ke sana ditutup bagi wisatawan. Dari informasi petugas pula saya tahu jika fasilitas penginapan di dalam Taman Nasional Baluran sudah dibuka kembali bagi wisatawan. Namun, bagi wisatawan yang ingin menginap di dalam Taman Nasional diwajibkan untuk melakukan reservasi sebelumnya dan memberikan kabar jam kedatangan mereka. Jam masuk pengunjung menuju ke dalam Taman Nasional Baluran paling sore adalah pukul empat. Lebih dari jam yang ditentukan masih bisa diperbolehkan masuk ke dalam, dengan catatan pengunjung harus memberikan kabar kira-kira jam kedatangan mereka di gerbang Taman Nasional Baluran pukul berapa agar dapat dikoordinasikan dengan petugas yang berjaga di dalam Taman Nasional, serta tak lupa wajib melakukan reservasi penginapan jauh-jauh hari sebelumnya.

Thursday, November 20, 2014

Sunset Ketapang-Gilimanuk

Terkadang, hanya butuh sebuah spontanitas dalam sebuah perjalanan, tak usah banyak rencana, asal jalan saja !

Sejak di dalam kereta menuju Banyuwangi, saya dan teman seperjalanan mulai sibuk mencari infomasi mengenai kuliner khas lokasi yang akan kami kunjungi. Kami tertarik untuk mencoba beberapa kuliner khas Kota Banyuwangi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran yang menjadi tujuan utama kami. Namun, mengingat lokasi yang belum pasti, membuat kami mencoba kembali mencari alternatif kuliner khas yang tak jauh dari stasiun kedatangan kami nanti. Setelah bertanya ke sana kemari, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pulau seberang, dengan pertimbangan waktu tempuh dan lokasi yang sudah pasti untuk kami kunjungi, tanpa harus repot untuk mencari.


Jarak antara Pelabuhan Ketapang dengan Stasiun Banyuwangibaru ternyata tak seberapa jauh. Cukup berjalan kaki kurang lebih tujuh menit, kami pun tiba di pelabuhan. Sore itu pelabuhan nampak cukup lengang dari lalu-lalang kendaraan maupun penumpang. Kami pun bergegas mencari kapal yang siap berangkat menuju pulau seberang. Tak lama setelah kami naik ke atas kapal, perlahan namun pasti, kapal mulai berlayar meninggalkan dermaga. Sempat terbersit rasa panik dalam benak saya, mengingat kejadian beberapa tahun silam dalam penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk. Saya hampir saja mabuk laut, karena terlalu asyik mengamati matahari terbit dari atas kapal. Angin laut berhembus lumayan kencang membuat saya masuk angin, kemudian kepala pening dan akhirnya rasa mual pun muncul selama penyeberangan. Walaupun isi perut sampa keluar, namun membuat badan menjadi tidak nyaman.

Wednesday, November 12, 2014

Ayam Betutu Ibu Lina, Gilimanuk

Aromanya sedikit menghentak indra penciuman. Tampilannya pun membuat begidik karena potongan cabai beserta isinya yang terlihat "berserakan" memenuhi seluruh bagian ayam. Belum lagi dengan kuah sedikit pekat seolah siap membakar lidah ketika menelannya. Benar saja, dari tampilannya pun dapat ditebak bagaimana cita rasa dari ayam betutu khas Gilimanuk ini. Cita rasa pedas langsung "nampol" di mulut dan lidah saat gigitan pertama, ditambah dengan rasa gurih khas bumbu rempah pun terasa kuat terasa di indera pengecap. Perpaduan rasa yang pas, pedas dan gurih beradu "cantik" dalam indera pengecap sehingga membuat kita tidak ingin berhenti menikmati sajian ayam betutu ini hingga tandas.


Ayam betutu merupakan salah satu sajian khas dari Pulau Dewata. Pada jaman dahulu, ayam betutu hanya disajikan dalam upacara keagamaan maupun upacara adat saja. Tapi sekarang, ayam betutu pun sudah banyak dijajakan di mana saja. Salah satu warung ayam betutu yang cukup terkenal di Pulau Dewata adalah Warung Ayam Betutu Bu Lina yang tak jauh dari pelabuhan penyeberangan Gilimanuk yang menghubungkan antara Pulau Bali dengan Pulau Jawa. Tampilan warung ini sekilas tampak sederhana, namun pembeli yang datang silih bergantian seolah tak pernah ada hentinya.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com