Tuesday, July 23, 2013

Mengelilingi Tempat-Tempat Bersejarah ala Surabaya Heritage Track

Tidak lengkap rasanya mengunjungi Museum House of Sampoerna tanpa mengikuti tour yang diselenggarakan oleh Surabaya Heritage Track. Surabaya Heritage Track merupakan fasilitas yang diberikan oleh House of Sampoerna secara gratis untuk berkeliling menikmati tempat-tempat bersejarah di Kota Surabaya menggunakan sebuah bus khusus. Siapa pun dapat menikmati tour ini secara gratis, dengan terlebih dahulu mendaftar di Tracker Information Center yang terletak di sebelah A Cafe di kompleks House of Sampoerna.


Beruntung sore itu saya dan Kak Anna dapat mengikuti tour yang diadakan oleh Surabaya Heritage Track. Pukul 14.35 kami bergegas untuk mendaftar di bagian Tracker Information Center untuk mengikuti tour pada pukul 15.00. Seorang pemandu yang cukup ramah menemani kita sepanjang perjalanan sambil menceritakan sejarah tempat-tempat yang kita lewati sepanjang tour. Pada saat weekend, tour yang diadakan termasuk ke dalam long trip dengan durasi waktu sekitar 1.5 sampai 2 jam perjalanan. Dari House of Sampoerna, bus melaju menyusuri bangunan penjara Kalisosok yang terkenal cukup menyeramkan. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1850 ini dahulu digunakan untuk tempat para tahanan sejak jaman penjajahan Belanda. Namun, sejak tahun 2001, penjara tersebut dikosongkan dan para tahanan dipindahkan ke Lapas Porong. Bangunan ini pun kosong dan hanya terlihat grafiti-grafiti yang menghiasi dinding pagar bangunan penjara ini.

Wednesday, July 17, 2013

Legomoro - Jajanan Berfilosofi dari Kotagede

Kotagede memang dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Yogyakarta. Selain perak, tempat ini juga dikenal sebagai "kota tua"nya Jogja karena masih menyimpan banyak bangunan kuno yang memiliki corak khas arsitektur Jawa yang hingga kini masih terjaga keberadaannya. Tak hanya perak dan juga bangunan tuanya, Kotagede juga memiliki beberapa makanan tradisional yang hingga kini masih dapat kita temukan.


Tak hanya kipo yang rasanya manis gurih, Kotagede juga memiliki jajanan pasar yang bernama legomoro. Melihat komposisi bahannya, legomoro ini hampir serupa seperti lemper, namun memiliki ukuran yang lebih kecil. Bahan pembuatan legomoro terdiri dari campuran beras ketan, santan, dan cacahan daging. Beras ketan yang sudah dimasak dengan santan kemudian dibungkus dengan daun pisang dan diberi cacahan daging di bagian tengah adonan. Adonan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang, dibentuk segi empat memanjang, dan diikat dengan tali bambu, lalu dikukus sampai matang. Di dalam penyajiannya, satu ikat tali bambu ini biasanya terdiri dari tiga atau empat buah legomoro.

Sunday, July 14, 2013

Museum House of Sampoerna Surabaya

Sebuah destinasi perjalanan, terkadang tak selamanya seperti apa yang telah kita rencanakan.


Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di Terminal Bus Probolinggo. Satu jam perjalanan menuruni daerah Bromo menggunakan bison yang cukup sesak dengan penumpang. Saya berencana melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Malang, namun tawaran mengunjungi Museum House of Sampoerna pun merubah rute perjalanan saya, hingga akhirnya saya memilih untuk singgah ke Kota Surabaya.

Saturday, July 6, 2013

Bromo, Lukisan Pagi dari Sang Hyang Widhi

Lembabnya udara pagi yang berkumpul menjadi embun, berpadu dengan syahdunya desiran suara angin gunung yang menggema. Aktivitas di Bromo memang bisa dikatakan sedikit tidak biasa. Kehidupan dimulai ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, di mana setiap orang mulai terlelap dalam tidur nyenyaknya. Di saat itulah justru kehidupan di Bromo mulai menggeliat, di mana orang-orang bersiap keluar menembus dinginnya udara gunung demi mengejar terbitnya matahari dari ufuk timur.


Menjelang pukul tiga pagi suasana homestay yang saya tinggali pun terdengar cukup riuh. Suara bapak-bapak mengetok-ngetok pintu kamar dibarengi seruan dengan suara yang cukup nyaring mencoba membangunkan setiap tamu yang sedang menikmati peraduan. Suara panggilan tersebut tidak saya hiraukan, walau sempat mengganggu ketenangan istirahat saya. Sengaja memang, kedatangan saya ke Bromo kali ini khusus untuk menikmati acara jazz gunung, bukan untuk memburu sunrise di penanjakan.

Friday, July 5, 2013

Solo Batik Carnival 2013 - Meriah, Namun Kurang Greget

Bulan Juni 2013 cukup banyak festival yang digelar di beberapa kota, bahkan dengan waktu penyelenggaraan yang hampir serentak. Tanggal 29 Juni kemarin terdapat dua buah event yang diadakan bersamaan di dua tempat yang berbeda, yaitu Solo Batik Carnival dan Dieng Culture Festival. Well, berhubung jarak Jogja dan Solo cukup dekat, kali ini saya memilih untuk menikmati sajian Solo Batik Carnival.


Solo Batik Carnival merupakan acara budaya yang diselenggarakan setiap tahun dan menjadi salah satu agenda wisata Kota Surakarta. Acara ini menampilkan kreativitas terutama di dalam bidang fashion. Mengambil lokasi menyusuri sepanjang Jalan Slamet Riyadi sebagai arena catwalk untuk memamerkan rancangan busana bernuansa batik yang terlihat wah. Solo Batik Carnival tahun 2013 mengambil tema "Memayu Hayuning Buwana", yang terdiri dari empat unsur utama yang ada di dalam bumi ini, meliputi air, api, tanah, dan udara. Hal ini tercermin dari warna-warni kostum yang dikenakan peserta pada saat pawai Solo Batik Carnival.

Wednesday, July 3, 2013

Merdunya Gunung ala Jazz Gunung 2013

Tak hanya keindahan alamnya saja yang mempesona, Bromo pun memiliki event musik tahunan yang menyajikan nuansa lain dari sebuah pagelaran musik.

Panggung musik terbuka dengan hiasan rentetan bambu sebagai latar belakangnya, dipadu dengan pemandangan perbukitan khas daerah pegunungan menyambut kedatangan para penonton yang ingin menikmati alunan musik jazz sore itu. Sinar matahari pun perlahan sirna diterjang kabut yang sesekali datang menyambut. Udara dingin yang menusuk kulit pun seolah tak menjadi penghalang bagi penikmat musik jazz untuk datang ke acara dengan suasana panggung terbuka. Semakin malam, kursi penonton di tribun pun semakin dipadati oleh para penikmat musik. Tua, muda, bahkan hingga anak-anak pun datang membaur demi menikmati alunan jazz bernuansa etnik yang dilantunkan oleh musisi ternama tanah air. 


Jazz Gunung, sebuah pagelaran musik jazz tahunan yang mengambil lokasi di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang keindahan perbukitan daerah pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bayangkan betapa dinginnya lokasi tersebut, namun alunan musik jazz seolah menghangatkan suasana panggung di Java Banana Bromo sore hingga malam itu. Jazz Gunung tahun ini diadakan selama dua hari berturut-turut, mulai dari tanggal 21 - 22 Juni 2013. Gelaran musik Jazz Gunung tahun ini sudah menginjak tahun kelima penyelenggaraannya.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com