Tuesday, May 28, 2013

Pantai Pok Tunggal - Dulu Tenang, Kini Ramai Wisatawan

Awal keberadaan pantai ini sempat gencar dibicarakan di sosial media pada penghujung tahun 2012 yang lalu. Sebuah pantai yang masih sepi karena belum banyak orang yang mengetahui. Pantai Pok Tunggal,  sebuah pantai pasir putih khas pesisir selatan Gunung Kidul dengan ikon sebuah tanaman yang mirip seperti tanaman bonsai yang dibentuk sedemikian rupa namun berukuran cukup besar seperti layaknya pohon-pohon yang tumbuh normal.


Jalan menuju Pantai Pok Tunggal memang sedikit berliku dengan jalan setapak bebatuan yang belum dibangun secara permanen. Ah tidak, saya memilih untuk lewat jalur lain, yaitu dengan melalui jalur susur pantai. Kendaraan saya parkirkan di Pantai Pulang Syawal, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pantai Goa Watu Lawang. Dari pantai tersebut saya lanjut berjalan kaki menyusuri tepian pantai, melewati bongkahan batu karang, hingga akhirnya menuju Pantai Pok Tunggal. Saya tidak menyarankan melewati jalur ini, hanya orang-orang yang sedikit "nekat" saja silahkan melalui jalur tersebut. Medan yang dilalui cukup menguras tenaga dan sedikit menguji mental, karena kita harus melewati jalur bebatuan karang yang cukup terjal dengan hempasan ombak laut selatan yang sesekali mengganas. Jalur ini cocok bagi Anda yang gemar akan sensasi berpetualang di alam bebas.

Thursday, May 23, 2013

Pulang Tanpa Kenangan

Menata kembali folder-folder foto yang berserakan, seolah menggugah kembali kenangan-kenangan masa silam yang terkadang terlupakan. Every pictures give us a story !

Ah, folder-folder itu mengingatkanku akan kegemaranku memainkan shutter kameraku. Walaupun sampai sekarang hasilnya pun masih tetap "sampah". Yah, "sampah" data yang bergiga-giga kapasitasnya. Aku mulai mengenang kembali masa-masa itu, di mana aku mulai menggemari mengutak-atik kamera untuk mendapatkan gambar yang aku inginkan. Datar, tanpa makna, dan memang "tidak dapat berbicara". Terkadang aku merasa sebagai seorang tukang foto yang hebat karena sanjungan dan pujian yang terlontar dari sosial media, di mana beberapa foto aku pasang di lini massa tersebut.Tak banyak, hanya beberapa yang memberikan komentarnya memang. Pujian yang sempat membuatku besar kepala dan menjadikan diriku seorang yang (sok) hebat dalam berkarya.

Folder-folder berserakan, yang seolah mengajakku mengingat kembali akan hobi jalan-jalan yang aku geluti, setelah mendapatkan kamera ini. Pikiranku seolah seperti digelitik, mengingat kembali apa esensi dari "jalan-jalan" yang aku jalani. Bukankah kita jalan-jalan untuk melepas penat? Bukan jalan-jalan yang menambah beban ketika kita selesai melakukan perjalanan tersebut. Beban yang saya maksud adalah beban untuk harus mendapatkan foto sebagus yang mampu kita hasilkan, beban ketika kita harus membuat sebuah catatan untuk menceritakan kisah perjalanan yang baru saja kita lakukan.

Berangkat pun sudah ada beban, pulang pun tanpa membawa sebuah kesan. Beban untuk mendapatkan foto yang layak untuk dipublikasikan, beban untuk mendapatkan informasi guna membuat ulasan dalam sebuah tulisan, dan beban untuk kapan segera menyelesaikan pekerjaan. Hambar, tak ada kenikmatan, tak ada perasaan penarasan, tidak ada rasa puas, dan pada akhirnya pulang tanoa memberikan kesan yang membekas ke dalam hati dan pikiran.

Apa esensi dari sebuah perjalanan? Untuk keluar sejenak dari rutinitas keseharian? Atau hanya sekedar ajang untuk pamer jika kita pernah berkunjung ke sebuah tempat yang menjadi impian setiap orang? Bukankah esensi dari sebuah perjalanan itu mengenai kualitas dari perjalanan tersebut? Bukan hanya kuantitas semata kan?

Jujur, aku mulai tidak menikmati setiap perjalanan-perjalanan yang aku lakukan akhir-akhir ini. Aku terlalu sibuk memikirkan bagimana caranya untuk mendapatkan foto-foto bagus (menurutku). Mencoba menangkap setiap kisah yang ingin aku dapat, sehingga lupa untuk menikmati perjalanan yang aku lakukan tersebut. Dan akhirnya perjalanan memang akan terasa hambar, tidak ada proses pembelajaran yang kita rasakan, yang ada hasilnya hanya foto yang bergiga-giga namun tak ada makna.

Perjalanan itu proses, nikmati proses yang ada, jangan memikirkan hasil akhir harus bagaimana, foto bagus anggap saja sebagai bonus ! Dengan menikmati proses kita akan lebih merasakan dan menghargai esensi dari perjalanan itu sendiri. Perjalanan untuk melegagan rohani yang sedang "haus". Nikmati proses, foto dengan momen bagus biasanya akan kita dapat ketika kita mulai menikmati proses yang kita jalankan.

Taman Sari, Maret 2013
Kraton Ratu Boko, Maret 2013
Tanjung Papuma, Jember, November 2012
Tak semua hal yang terlihat indah oleh mata, dapat divisualisasikan baik oleh lensa kamera ! Mungkin dia hanya dapat "dinikmati" langsung oleh mata saja !

Monday, May 20, 2013

Pantai Timang - Cerita Tentang Pemburu Lobster, Gondola Kayu, dan Pulau Karang

Menjelajahi pantai-pantai yang masih tersembunyi di antara deretan pesisir selatan Gunung Kidul memberikan cerita tersendiri di dalam sebuah kisah perjalanan yang kita lalui.

Menemukan pantai ini memang sedikit dibutuhkan kejelian dan perjuangan, karena minimnya petunjuk serta akses jalan yang belum terlalu baik untuk menuju ke sana. Pantai Timang, mungkin keberadaannya belum terlalu terkenal seperti pantai-pantai lain yang ada di deretan pesisir selatan Gunung Kidul. Pantai yang terkenal dengan lobster dan gondola kayu ini menyajikan petualangan tersendiri sembari menikmati keindahan lokasi.


Jika flash back sejenak, pertama kali saya mengenal keberadaan Pantai Timang dari sebuah acara televisi swasta nasional. Acara "Para Pemburu" yang ditayangkan oleh Trans TV setiap hari Minggu sore. Acara yang sempat tayang dari pertengahan tahun 2010 hingga awal Februari 2011 ini menyajikan sebuah tayangan tentang perjuangan sosok-sosok tangguh di dalam mencari nafkah demi menyambung hidup. Sebuah tayangan yang menggambarkan sebuah kesenjangan kehidupan. Sebuah gambaran betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan sesuatu, namun tidak sebanding antara risiko yang diambil dengan nilai rupiah yang mereka terima. Tayangan yang menyajikan realitas kehidupan sehari-hari yang mungkin saja jarang kita amati.

Monday, May 13, 2013

Nikmatnya Ayam Goreng Kampung ala Mbah Cemplung

Terkadang kita harus rela menjelajah hingga tempat-tempat yang sedikit terpencil demi terpenuhinya hasrat akan sebuah rasa. Terkadang kita juga harus rela, menempuh perjalanan yang cukup jauh demi terpenuhinya rasa penasaran akan sebuah cita rasa kuliner yang melegenda. Berawal dari sebuah ketidak sengajaan ketika sedang tersasar mencari warung pecel Mbah Warno "Kutang", saya menemukan warung makan yang menyajikan menu ayam goreng yang cukup melegenda karena kelezatan sajian masakannya.


"Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung", begitu banner sederhana yang terpasang di pinggir jalan. Walaupun memiliki konsep warung makan rumahan dan terletak cukup mblusuk di wilayah pedesaan, namun jangan salah, tempat makan yang satu ini selalu ramai didatangi oleh para pengunjung yang rata-rata menggunakan kendaraan roda empat. Jika Anda datang di jam-jam padat pengunjung, bisa-bisa Anda harus waiting list  menunggu tempat duduk yang kosong, syukur-syukur tidak kehabisan menu ayam yang disajikan.

Thursday, May 9, 2013

Menyantap Pecel Ndeso Racikan Mbah Warno Kutang

Tidak lengkap rasanya bila sudah lama tinggal di Jogja tidak berburu kuliner khas yang cukup melegenda. Bahkan jika harus berburu kuliner khas hingga ke pelosok-pelosok daerah demi terpenuhinya hasrat akan sebuah cita rasa. Perjalanan rasa kali ini membawa saya menyusuri salah satu sudut perkampungan di kawasan Bantul. Berada di antara daerah sentra gerabah Kasongan menuju daerah Gunung Sempu yang terkenal dengan area pemakamannya, terdapat sebuah warung pecel legendaris milik Mbah Warno "Kutang".


Dibutuhkan sedikit kejelian untuk menemukan warung sederhana milik Mbah Warno "Kutang". Papan nama warung yang sangat kecil dan sudah usang cukup menyulitkan saya untuk menemukan warung tersebut. Tak adanya tanda-tanda keberadaan warung membuat saya harus mengitari jalan beberapa kali, kesasar ke beberapa lokasi, hingga akhirnya saya menemukan warung sederhana tersebut berkat bantuan "GPS manual" alias bertanya ke sana ke mari dengan orang-orang yang saya temui.

Wednesday, May 1, 2013

Orang Solo Menyebutnya "Omah Lowo"

Terletak di sebelah timur perempatan Purwosari atau tepatnya di sebelah timur rumah makan cepat saji Jackstar di kawasan Solo Center Point, terdapat sebuah bangunan tua yang termasuk ke dalam bangunan cagar budaya. Mungkin saja bangunan ini terkadang sedikit luput dari perhatian para pengguna jalan yang melintasi sepanjang Jalan Slamet Riyadi.


Dikelilingi oleh pagar besi yang cukup tinggi, bangunan ini dikenal dengan sebutan Omah Lowo atau rumah kelelawar. Dari segi arsitekturnya cukup unik, memiliki cukup banyak pilar sebagai penyangga bangunan. Wajar saja jika bangunan ini terkenal dengan sebutan omah lowo, karena bangunan ini menjadi hunian para kelelawar. Pada siang hari suara cicitan para kelelawar ini terdengar sangat riuh dan seolah saling bersautan satu dengan lainnya.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com