Sunday, September 23, 2012

Candi Bima - Candi Unik Akulturasi Budaya India

Menapaki kawasan pelataran Candi Bima ini serasa dibawa ke sebuah dimensi lain. Bentuk bangunannya yang unik memberikan nuansa seolah-olah kita sedang berada di negeri antah berantah.


Menapaki jejak-jejak warisan arkeologi di kawasan dataran Tinggi Dieng seolah tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Mulai dari Kompleks Candi Arjuna yang ramai dikunjungi, Candi Setiaki yang masih terus direstorasi, Candi Gatotkaca dan juga Museum Kailasa yang menyimpan koleksi arca. Candi Bima berdiri kokoh di persimpangan jalan menuju pintu masuk Kawah Sikidang. Setelah menaiki beberapa anak tangga, kita akan disambut dengan bangunan candi yang gagah berdiri dikelilingi oleh bunga-bunga Hortensia yang bermekaran di taman. Jika dilihat dari bangunan fisiknya, Candi Bima merupakan candi terbesar di antara candi-candi yang berada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng ini dengan ukuran 6x6 meter dengan ketinggian 8 meter.


Candi Bima memiliki keunikan dari segi bentuk bangunannya yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk candi yang tersebar di wilayah Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Kaki Candi Bima memiliki denah bujur sangkar dengan setiap sisi terdapat penampil yang agak menonjol keluar sehingga seolah-olah memberikan kesan denah dasar Candi Bima ini berbentuk segi delapan. Keunikan lain dari bangunan candi ini adalah bagian atapnya yang berbentuk seperti sebuah mangkok yang ditangkupkan atau mirip dengan bentuk Shikara. Bagian atap candi ini terdiri dari lima buah tingkat, semakin ke atas bentuknya semakin mengecil. Pada masing-masing bidang tingkatan terdapat relung-relung yang berbentuk melengkung dengan hiasan relief kepala dewa di dalamnya. Hiasan relief motif seperti ini lebih dikenal dengan nama Arca Kudu, yang menjadi ciri khas bangunan candi di India.


Satu hal yang menjadi keprihatinan kita sebagai generasi penerus bangsa adalah masih maraknya pencurian benda-benda peninggalan bersejarah. Candi Bima tidak lepas dari tangan-tangan nakal dari oknum yang tidak bertangung jawab. Beberapa Arca Kudu yang menjadi penghias relung candi menjadi sasaran para pencuri. Informasi yang saya peroleh, dahulu Candi Bima memiliki Arca Kudu sebanyak 24 buah, namun kini yang tersisa hanya 13 buah. Petugas dari BP3 yang ditugaskan dikawasan Dataran Tinggi Dieng pun setiap malam disiagakan untuk berjaga di kompleks Candi Bima untuk menjaga keamanan candi.


Candi-candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini sekali lagi masih minim sekali mengenai informasi yang menjelaskan tentang keberadaan candi. Menurut saya selalu ada yang kurang jika kita berkunjung ke tempat yang bersejarah namun tidak terdapat papan informasi yang menjelaskan tentang tempat tersebut. Kita hanya bisa menikmati keindahan bangunan candi saja tanpa bisa mengenal lebih dalam mengenai keberadaan candi tersebut seperti sejarah pembangunannya, informasi mengenai kegiatan restorasi dan sebagainya. Semoga saja cepat atau lambat pihak-pihak yang berwenang segera memberikan tambahan fasilitas mengenai informasi bangunan candi tersebut.

Friday, September 21, 2012

Museum Kailasa - Rumah Persemayaman Para Dewa


Menapaki jejak-jejak sejarah di kawasan Dataran Tinggi Dieng tidak lengkap rasanya jika tidak singgah sejenak ke Museum Kailasa. Museum yang memiliki empat buah bangunan, dua diantaranya digunakan sebagai ruang pameran ini memiliki koleksi yang cukup beragam. Koleksi yang berada di ruang pameran utama terdiri dari artefak dan keterangan geologi, kultur dan budaya tradisional masyarakat Dieng, kekayaan flora dan fauna, serta tak ketinggalan yang paling menarik adalah arca-arca candi warisan arkeologi di kawasan Dataran Tinggi Dieng lengkap disajikan di dalam Museum Kailasa ini. 


Pemberian nama Kailasa sendiri berkaitan dengan nama salah satu gunung tempat tinggal Dewa Siwa. Pemberian nama Kailasa dipilih karena peninggalan candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng yang sebagian besar bercorak agama Hindu dengan Dewa Siwa sebagai dewa pemujaan utama. Museum Kailasa ini diresmikan tanggal 28 Juli 2008 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada saat itu, yaitu Ir. Jero Wacik.



Museum Kailasa memiliki display yang cukup berbeda dibandingkan dengan museum-museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Kesan nuansa museum modern sangat terlihat jelas di bagian ruang pameran utama, tidak ada kesan seram maupun membosankan selama menjelajahi isi museum ini. Informasi yang disajikan mengenai koleksi barang-barang yang ada di dalam museum pun cukup lengkap. Hal yang paling menonjol dari koleksi museum ini adalah koleksi prasati dan juga arca-arca dari kompleks candi-candi di Dataran Tinggi Dieng. Salah satu arca yang paling menarik perhatian adalah arca Siwa berkepala tiga atau biasa disebut dengan Siwa Trisirah atau Trimukha. Siwaa trisirah ini merupakan bentuk lain penggambaran Siwa Mahadewa, yang di dalamnya mengandung unsur Trimurti.


Selain melihat benda-benda koleksi yang dipajang di dalam ruang pameran, pengunjung juga dapat melihat film dokumenter di ruang audio visual mengenai  kehidupan masyarakat, potensi alam, serta kebudayaan tardisional yang dimiliki Dataran Tinggi Dieng. Film dokumenter yang diputar terdiri dari dua jenis, yaitu yang berdurasi sekitar 10 menit dan 27 menit, tergantung pilihan pengunjung mau melihat film dokumenter yang mana.


Selesai wisata edukasi di ruang pameran utama, pengunjung selanjutnya keluar menapaki tangga batu menuju ruang pameran kedua. Ruang pameran kedua terlihat lebih sederhana, hanya terlihat batu-batu arca yang ditata sedemikian rupa serta informasi-informasi mengenai nama arca-arca tersebut. 


Selesai menikmati koleksi Museum Kailasa ini, tak ada salahnya jika menaiki tangga menuju bangunan di bagian atas. Bangunan tersebut merupakan kafetaria yang sengaja disediakan bagi pengunjung yang ingin melepas lelah sambil menikmati pemandangan perbukitan di sekitar museum. Jika tak ingin mampir ke kafetaria tak ada salahnya juga menikmati keindahan taman yang ada di sekitarnya. Banyak penduduk sekitar maupun muda-mudi di sore hari bermain-main di sekitar taman ini. Pemandangan yang disajikan memang menawan hati. Kita dapat melihat pemandangan Kompleks Candi Arjuna dari atas bukit berdiri dengan megahnya. 

Selain ketiga bangunan tersebut, terdapat sebuah bangunan yang dijadikan sebagai kantor sekaligus tempat jaga petugas museum. Ruangan ini juga dijadikan sebagai gudang tempat menyimpan arca-arca yang masih belum teridentifikasi maupun arca-arca dalam keadaan yang rusak agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Keterangan :
Jam buka Museum Kailasa dari hari Senin sampai dengan Minggu, pukul 08.00 sampai dengan 16.00
harga tiket masuk Rp 5.000,00 per-orang (data Juli-Agustus 2012)
fasilitas : toilet, mushola, kafetaria

Candi Gatotkaca - Candi yang Dekat dengan Museum Kailasa


Menikmati keindahan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng seperti Kompleks Candi Arjuna dan Candi Setiaki tidak lengkap rasanya jika tidak melanjutkan langkah kaki menuju Candi Gatotkaca. Candi ini terletak tidak jauh dari Museum Kailasa, museum yang menyimpan koleksi arca-arca. Jika Anda berjalan dari arah Kompleks Candi Arjuna, di sepanjang jalan setapak akan disambut dengan pohon cemara dan bunga sedap malam yang ditata sedemikian rupa sehingga sepanjang perjalanan terasa menyejukkan mata.



Candi Gatotkaca terletak di sebelah barat Telaga Balekambang dan berada di dekat Bukit Pangonan. Tak heran jika Candi Gatotkaca ini memiliki latar belakang panorama perbukitan dan telaga yang indah. Candi Gatotkaca merupakan candi bercorakkan agama Hindu. Ciri khas tersebut secara jelas dapat dilihat dari adanya bangunan yoni yang berada di dalam bangunan candi. Candi ini memiliki bentuk kotak persegi empat berukuran 4,5 x 4,5 meter. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh candi ini adalah adanya kala makara berbentuk wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah di salah satu  sisi bangunan candinya.



Di sekitar bangunan utama Candi Gatotkaca ini terdapat reruntuhan bebatuan yang terlihat berserakan. Entah, mungkin saja bebatuan tersebut adalah bangunan candi perwara yang sudah rusak dan belum sempat direstorasi kembali. Satu hal yang disayangkan di candi ini adalah belum adanya informasi yang jelas mengenai keberadaan bangunan candi ini, seperti sejarh kapan dibangun, ditemukan, dan dilakukan kegiatan restorasi bangunan candi. Andai saja fasilitas ini dilengkapi, tentu saja wisata candi ini semakin menambah nilai edukasi.

Thursday, September 20, 2012

Candi Setiaki - Candi yang Masih Terus Direstorasi


Dataran Tinggi Dieng menyimpan harta karun berupa bangunan candi nan eksotis selain pesona panorama alamnya yang dramatis. Satu lagi harta karun bangunan candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, yaitu Candi Setiaki. Kompleks Candi Setiaki ini berlokasi tidak jauh dengan Kompleks Candi Arjuna, hanya tinggal melangkahkan kaki beberapa meter saja kita akan sampai di kompleks candi. Candi bercorak agama Hindu ini terletak di tengah-tengah padang rumput yang diapit oleh kebun milik penduduk. Corak candi Hindu terlihat jelas dari bangunan yoni yang terletak di bagian dalam candi. Lokasinya yang terpisah dengan kompleks candi lain memberikan kesan seolah-olah candi ini menyendiri di antara rerumputan yang tumbuh alami.


Menurut informasi yang saya dengar, candi ini baru saja selesai dipugar oleh Balai Pelestarian Benda Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Namun, pemugaran candi ini belum rampung secara keseluruhan, masih ada bagian dari bangunan candi yang belum selesai dikerjakan. Hal yang paling kasat mata yang dapat kita lihat adalah bangunan candi ini masih belum memiliki atap, hanya bangunan pondasi dan badan candi saja yang selesai dipasang. Pemugaran bangunan candi ini terdiri dari bagian pondasi candi yang masih batuan asli, sedangkan pada bagian badan candi merupakan batuan baru yang ditatah dan diukir sedemikian rupa hingga menyeruapi bangunan aslinya. Batuan asli dari bangunan badan candi sudah mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan lagi. Di sekeliling bangunan candi memang terlihat beberapa batu yang teronggok begitu saja, diperkirakan batuan ini merupakan batu asli dari bangunan Candi Setiaki.



Di sekeliling Candi Setiaki ini konon masih terdapat bangunan candi lainnya, hanya saja kondisinya dalam keadaan yang mengenaskan. Sepanjang mata memandang hanya terlihat bangunan-bangunan yang menyerupai bagian dari pondasi candi saja. Bangunan pondasi candi tersebut sebagian besar sudah tertutup oleh rimbunnya rumput liar yang tumbuh subur di sekelilingnya. Saya membayangkan jika kompleks tersebut berdiri candi-candi yang kokoh dan terawat dengan baik alangkah indahnya dan kayanya negeri ini akan peninggalan benda-benda bersejarah kejayaan masa lampau.

Sunday, September 16, 2012

Kompleks Candi Arjuna - Candi Hindu Tertua di Indonesia


Kompleks Candi Arjuna tidak dipungkiri lagi merupakan salah satu daya tarik utama pariwisata yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Candi ini memiliki daya tarik tersendiri sehingga hampir tidak pernah sepi oleh pengunjung, apalagi ketika akhir pekan tiba. Kompleks Candi Arjuna merupakan candi peninggalan Hindu tertua di Indonesia, dibangun sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 atau sekitar tahun 809 Masehi. Penemuan kompleks Candi Arjuna ini berawal dari seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814 yang secara tidak sengaja melihat sekumpulan candi yang tergenang di dalam air rawa. Pada tahun 1856 kemudian dilakukan upaya pengeringan rawa untuk menyelamatkan bangunan candi. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menindaklanjuti upaya pengeringan rawa pada tahun 1864 setelah sempat terhenti beberapa tahun sebelumnya.



Kompleks Candi Arjuna memiliki beberapa bangunan candi. Pemberian nama-nama candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng berdasarkan nama tokoh dalam cerita pewayangan yang diadopsi dari Kitab Mahabarata. Di kompleks ini terdapat lima buah bangunan candi, dengan Candi Arjuna sebagai candi utama karena bangunan fisiknya yang terlihat lebih besar dibandingkan dengan bangunan candi lainnya. Candi ini berhadapan langsung dengan Candi Semar, candi unik dengan bentuk atap seperti bangunan limasan, bukan seperti atap candi yang lazim seperti candi Hindu lainnya yang berbentuk meruncing pada bagian atapnya. Candi lainnya adalah Candi Sembadra, Candi Puntadewa, dan Candi Srikandi yang berada sejajar dengan Candi Arjuna.


Bangunan candi di kompleks percandian Arjuna ini memiliki kondisi bangunan yang masih cukup baik, relief-relief pun masih nampak terawat. Di sekeliling bangunan candi terdapat taman-taman dengan pohon cemara, tanaman bunga, serta rumput yang tertata. Keberadaan taman ini memberikan suasana asri di antara kompleks candi yang terlihat cukup gersang. Tanah berumput di sekitar kompleks candi banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat terutama anak-anak untuk bermain bola. Ada juga penduduk yang memanfaatkan rerumputan sebagai tempat merebahkan badan untuk berjemur. Kebiasaan berjemur inilah yang menjadi ciri khas warga Dieng untuk menghangatkan badan dari serbuan dinginnya udara sekitar. Jika beruntung, Anda dapat bertemu dengan anak berambut gimbal di kompleks candi ini. Anak berambut gimbal memang menjadi ciri khas dari warga Dieng karena dianggap memiliki keistimewaan. Anda pun dapat mengajaknya foto bersama anak-anak berambut gimbal ini.



Kompleks Candi Arjuna hingga kini masih dimanfaatkan sebagai tempat beribadah umat Hindu. Menurut informasi bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Pulau Dewata untuk beribadah di sini. Selain itu juga kompleks percandian ini dijadikan sebagai wisata spiritual, khususnya bagi para bule yang ingin melakukan  meditasi. Kegiatan meditasi ini juga mrupakan hal favorit di kalangan bule yang saya temui mengunjungi Dataran Tinggi Dieng ini. Jadi jangan heran jika di dalam bangunan candi terkadang masih terlihat bekas sesaji maupun bekas dupa yang terbakar.


Ada sebuah mitos yang beredar jika Anda berada di kompleks candi ini pada tengah malam. Mitos yang saya dengan sih jika pikiran sedang kosong atau melamun, pandangan mata seolah-olah melihat kondisi sekitar kompleks candi serasa dikelilingi oleh sebuah telaga. Entah, mungkin juga masih ada hubungannya dengan kondisi masa lalu candi yang tergenang oleh air air rawa :) Saya pernah jalan-jalan tengah malam  di kompleks candi dengan beberapa teman dari Unpad yang sedang bertandang di Dieng serta ditemani dengan bapak-bapak penjaga Museum Kailasa. Malam itu tidak ada sesuatu yang janggal sih, kecuali hasil gambar di kamera yang ada penampakan seperti "asap". Si bapak penjaga museum hanya berkata,"sudah biasa kok mas kayak gini", dan kami semua hanya terdiam, hihihihi.

Menurut saya Kompleks Candi Arjuna ini masih minim mengenai informasi keberadaan candi, seperti sejarahnya, maupun cerita-cerita mengenai kegiatan pemugaran dan lainnya, seperti layaknya candi-candi di sekitar Jogja yang sudah mempunyai papan informasi mengenai keberadaan candi. Hal lainnya yang masih minim adalah masih kurangnya fasilitas tempat sampah sehingga ada pengunjung yang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan. Semoga saja ke depan fasilitas-fasilitas tersebut segera ditambah oleh dinas yang berwenang agar semakin menambah kenyamanan bagi pengunjung Kompleks Candi Arjuna.

Keterangan
lokasi : Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
jam buka : dari pagi sampai dengan sore
harga tiket Rp 10.000,00 untuk tiket terusan Kompleks Candi Arjuna dan Kawah Sikidang

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com