Saturday, June 30, 2012

Trip To Bromo Day 3 : Tersihir Pesona Keindahan Danau Ranu Pane



Perjalanan saya kali ini berhenti di salah satu spot yang cukup terkenal di kaki Gunung Semeru, yaitu danau Ranu Pane, sebuah danau tidak terlalu luas namum memiliki pemandangan alam yang sangat indah di sekelilingnya. Danau Ranu Pane ini merupakan salah satu dari tiga danau yang terletak dii Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru. Secara administratif danau Ranu Pane ini terletak di Kabupaten Lumajang. Danau ini terletak di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan air laut. Lokasi Danau Ranu Pane ini biasanya dijadikan sebagai tempat beristirahat oleh para pendaki sebelum menuju ke Puncak Mahameru, yaitu puncak dari Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. 


Danau ini dikelilingi oleh deretan perbukitan yang berdiri kokoh. Terdapat pula beberapa bangunan rumah milik penduduk dan juga pura tempat beribadah yang berada di sekitar danau ini. Rata-rata penduduk di daerah ini memang menganut agama Hindu Tengger. Di antara deretan perbukitan tersebut terdapat perkebunan warga yang rata-rata ditamani berbagai macam sayur-mayur. Sepertinya warga di sini memang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan perkebunan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata dan menentramkan jiwa, suasana danau yang sangat tenang, udara yang bersih, seolah-olah membuat beban yang ada di pikiran lepas begitu saja ketika menginjakkan tempat ini, Ranu Pane.



Dari kejauhan kita dapat melihat puncak Gunung Semeru yang terlihat samar tertutup oleh deretan perbukitan. Namun sayang air danau Ranu Pane ini tidak terlalu jernih dan terjadi pencemaran yaitu adanya tanaman semacam bunga air yang sekilas terlihat seperti tanaman sejenis ganggang yang tumbuh subur hingga menutupi sebagian dari permukaan air danau ini. Jika dilihat sekilas danau ini jadi mirip seperti lapangan sepak bola karena tertutup tanaman ganggang tersebut. Tanaman ini juga mengancam kelangsungan ekosistem di dalam Danau Ranu Pane itu sendiri. Sampai sekarang pun penduduk sekitar bekerja sama dengan petugas berusaha untuk membersihkan tanaman bunga air yang menganggu pemandangan dan juga ekosistem Danau Ranu Pane ini.

Rasanya memang ingin berlama-lama menikmati keindahan Danau Ranu Pane ini. Sayang rasanya jika harus cepat-cepat meninggalkan pemandangan alam yang sangat indah yang tersaji di depan mata. Saya pun berjanji di dalam hati untuk suatu saat nanti datang kembali ke tempat ini, tempat yang membawa sebuah ketentraman jiwa. Hmmm...semoga saja saya bisa segera merealisasikannya.

Oh iya, biaya tambahan yang dikenakan untuk sampai ke Danau Ranu Pane ini adalah sebesar Rp 50.000,00 dengan menggunakan ojek. Mahal memang, tapi pengalaman dan kepuasan batin yang didapatkan memang tidak akan terhitung dengan nominal rupiah tadi. Ya, setidaknya itu pendapat saya sih, kalau lain kali ke sini lagi mungkin saya bisa menyiasati agar biaya yang saya keluarkan lebih hemat, hehehe.

Friday, June 29, 2012

Trip To Bromo Day 3 : Kemegahan Itu Bernama Semeru


Sepanjang perjalanan menuju danau yang dimaksudkan tadi memang mata saya terasa dimanjakan dengan pemandangan alam yang tersaji di depan mata saya. Deretan perbukitan terjal yang ditanami sayur-sayuran oleh penduduk, tanaman pinus di pinggir jalan, udara pegunungan yang masih sangat bersih belum tercemar polusi kendaraan bermotor, dan pemandangan yang tak kalah hebat adalah puncak Gunung Semeru yang terlihat jelas sepanjang perjalanan ini. Ya, gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut itu nampak begitu gagah menampakkan pesonanya. Tak heran banyak para pecinta alam yang mendambakan dapat mendaki ke puncak Gunung Semeru ini. 


Trip To Bromo Day 3 : Menikmati Padang Savana dan Bukit Teletubbies dari Atas Bukit


Puas menikmati spot Pendakian Gunung Bromo, perjalanan dilanjutkan menuju Padang Savana dan Bukit Teletubbies. Perjalanan kali ini memang mengulangi perjalanan yang saya lakukan di hari sebelumnya. Setelah  perjalanan yang cukup menguras adrenalin saya kembali karena si mas tukang ojek yang melakukan manuver-manuver di atas jalur pasir. Oh iya, sebelum langsung menuju spot padang savana, kami berhenti sejenak di tengah lautan pasir untuk mengambil gambar Gunung Batok, kebetulan jika masih pagi seperti ini pemandangan di sekitar lautan pasir masih bersih karena pasir yang masih lembab terkena kabut sehingga belum beterbangan diterpa oleh angin. Enaknya naik ojek memang lebih santai dan bisa berhenti di spot mana saja semau kita. 


Sesampainya di bukit savana saya hanya berhenti sebentar. Kebetulan ketika saya datang sudah ada rombongan muda-mudi dan seorang guide yang berasal dari masyarakat setempat sudah berada di padang savana. Hari sebelumnya saya memang sudah menjelajah tempat ini, jadi memang tidak se-excited kemarin. Saya pun berbincang-bincang dengan si mas tukang ojek dan si bapak-bapak pemandu rombongan muda-mudi itu. Dari obrolan tersebut si bapak memberitahu saya bahwa ada danau yang lumayan cantik di balik bukit. Selain danau, ada pula air terjun atau orang Jawa Timur menyebutnya dengan sebutan coban, namanya Coban Pelangi yang berada di jalur Bromo-Malang. Saya pun antusias mendengarkan cerita mereka dan merasakan penasaran akan keindahan tempat tersebut. Si mas tukang ojek tadi pun menawarkan diri untuk mengantarkan saya untuk menuju danau yang dimaksudkan, ya tentu saja ada tambahan biaya lagi dong untuk menuju ke sana.




Awalnya saya berpikir menimbang-nimbang tawaran tadi. Setelah sepakat dengan harga yang masih ada di kantong saya, si mas tukang ojek pun segera mengambil motornya. Kami pun berpamitan dengan bapak-bapak tadi untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menaiki bukit pun lumayan berat medannya, jalannya lumayan rusak parah, lebih parah daripada jalan menuju Penanjakan 1 belum lagi tanjakan-tanjakan yang cukup curam dengan kondisi jalan yang sempit. Sesampainya di atas bukit, si mas tukang ojek menghentikan laju kendaraannya. Hmmm... si mas nya bilang kalau bukit ini adalah salah satu spot favoritnya. Dari sini kita dapat melihat padang savana yang membentang luas serta kita dapat bebas berteriak sekencang yang kita mampu. Hahahaha tanpa malu-malu si mas nya langsung berteriak dengan lantang. Di spot ini saya memang manfaatkan untuk mengabadikan pemandangan kawasan Bromo dari sisi selatan. Deretan perbukitan yang nampak kokoh, terlihat gagah nan berwibawa, ya itulah gambaran dari deretan perbukitan Bromo di bagian selatan. Dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan padang savana dan bukit Teletubbies dengan sangat leluasa. Pemandangan padang savana dari atas nampak berwarna hijau kecokelatan karena bulan Juni sudah mulai musim kemarau sehingga beberapa tanaman tampak sudah mengering. Hmmm...rasanya ingin berlama-lama memandangi pemandangan deretan perbukitan ini. 

Wednesday, June 27, 2012

Trip To Bromo Day 3 : Pendakian Ke Puncak Gunung Bromo


Spot wajib yang dijelajahi di Bromo setelah spot Penanjakan 1 adalah lokasi pendakian Gunung Bromo. Ya, lokasi ini memang biasanya sudah menjadi satu paket dengan wisata Penanjakan. Gunung Bromo memiliki ketinggian sekitar 2.392 meter di atas permukaan laut. Untuk jalur pendakian ke Gunung Bromo sudah disediakan anak tangga untuk mempermudah pengunjung menuju puncak Gunung Bromo ini. Jumlah anak tangga yang harus kita daki untuk menuju puncak sekitar 250 buah anak tangga, entahlah saya tidak tahu berapa pastinya karena saya tidak menghitungnya :))


Untuk menuju ke anak tangga ini kita harus berjalan cukup jauh, sekitar 1 sampai dengan 2 kilometer dari parkiran Jeep, tetapi jika kita mengendarai motor tentu saja kita bisa parkir lebih dekat dengan lokasi anak tangga. Parkiran Jeep sudah disediakan sedemikian rupa, pengunjung yang tidak kuat berjalan kaki dapat memanfaatkan jasa porter kuda yang tersedia di lokasi. Untuk tarifnya sendiri dari parkiran Jeep menuju lokasi anak tangga pulang-pergi dibandrol dengan harga Rp 75.000,00 sampai dengan Rp 100.000,00, terhantung kelihaian Anda menawar. 


Awalnya sih saya mencoba untuk berjalan kaki, tapi belum sampai anak tangga nafas saya sudah ngos-ngosan tidak karuan. Saya kesulitan bernafas karena debu pasir vulkanik yang beterbangan ke sana kemari  yang berasal dari langkah kaki pengunjung, debu yang terkena angin, maupun langkah kaki kuda-kuda yang lewat cukup menyulitkan saya bernafas walaupun saya sudah tutup dengan masker. Saya pun menyerah di tengah perjalanan dan memutuskan untuk menyewa kuda, kebetulan memang ada satu bapak-bapak yang lumayan gigih membuntuti saja sejak dari parkiran motor dengan kuda putihnya. Setelah nego akhirnya si bapak memberikan harga sewa Rp 60.000,00 untuk pulang-pergi. Lumayan lah untuk menghela nafas, daripada nafas saya nanti sesak di tengah perjalanan karena debu vulkanik jahanam yang beterbangan itu. Oh iya bagi Anda yang berjalan kaki menuju anak tangga harap berhati-hati karena kotoran kuda yang berceceran sepanjang jalan, dianjurkan juga untuk membawa masker atau slayer untuk penutup hidung dari debu vulkanik yang beterbangan.


Ujian berikutnya setelah melewati area yang penuh dengan kotoran kuda dan debu vulkanik yang beterbangan adalah menaiki anak tangga. Anak tangga menuju puncak Bromo ini sudah dalam keadaan yang cukup rusak di beberapa sisi, belum lagi pasir vulkanik yang menutupi anak tangga menjadikan anak tangga tersebut cukup licin dilewati, sebaiknya Anda perlu berhati-hati untuk menaiki anak tangga ini. Setelah melewati 250 anak tangga ini, Anda akan tiba di puncak Gunung Bromo dan melihat sebuah cekungan kawah yang cukup lebar dan dalam. Kawah vulkanik tersebut masih aktif, memiliki diameter sekitar 600 sampai dengan 800 meter, sesekali memang tercium bau belerang namun tidak terlalu menyengat. Dan sekali lagi pendakian ke puncak Gunung Bromo ini sedikit membuat nafas saya tersengal karena debu vulkanik yang beterbangan di anak tangga. Tapi perjuangan itu terbayar dengan pemandangan cantik dari puncak Bromo.


Di puncak Bromo ini lumayan datar dan cukup sempit, kontur tanahnya sedikit labil karena terdiri dari pasir vulkanik, dan kurangnya pagar pembatas menjadikan Anda harus ekstra hati-hati, belum lagi jika pengunjung sedang ramai Anda harus rela berdesak-desakan. Selain menikmati kemegahan kawah Bromo, kita juga dapat melihat Gunung Batok yang terletak persis di sisi samping Gunung Bromo ini.  


Oh iya dari atas sini kita juga bisa melihat jelas sebuah pura umat Hindu Tengger yang terletak di antara Gunung Bromo dan Gunung Batok ini. Pura dan juga jalur pendakian ke Puncak Bromo ini biasanya akan ramai ketika perayaan Yadnya Kasada atau Kasodo yang diselenggarakan pada tanggal 14 atau 15 bulan Kasada (bulan kesepuluh) dalam penaggalan Jawa. Saya dengar informasi dari penduduk sekitar sih tahun ini perayaan Kasada akan jatuh pada bulan Agustus pada pertengahan bulan puasa mendatang. Bagi Anda yang berminat melihat perayaan Kasada, silahkan berkunjung ke Bromo pada bulan Agustus tahun ini.

Trip To Bromo Day 3 : Menikmati Keindahan Sunrise di Penanjakan


Menikmati matahari terbit atau sunrise memang menjadi salah satu "menu" wajib saat menjelajahi kawasan Bromo. Tidak dapat dipungkiri lagi banyak pengunjung yang rela bangun pagi-pagi buta bahkan ada yang tidak tidur untuk dapat menikmati keindahan sunrise di Bromo ini. memang sih satu hal yang cukup kontras di mana di kawasan perkotaan sekitar dini hari adalah jam-jam yang nyenyak untuk beristirahat, sedangkan di kawasan ini waktu dini hari adalah saat di mana dimulainya sebuah aktivitas untuk memulai hari. Di Bromo sendiri terdapat dua buah spot penanjakan yang menjadi lokasi pengunjung untuk menanti matahari terbit dari ufuk timur. Tapi, spot Penanjakan 1 ini memang menjadi lokasi favorit pengunjung dibandingkan dengan Penanjakan 2 karena pemandangannya yang jauh lebih bagus karena lokasi Penanjakan 1 yang juga jauh lebih tinggi daripada Penanjakan 2 sehingga kita dapat lebih bebas menikmati pemandangan. 


Malam hari saya memang sengaja untuk beristirahat lebih awal untuk menjaga stamina pada keesokan hari. Pagi-pagi buta sekitar pukul 03.15 saya sudah bersiap-siap untuk memulai petualangan. Jujur, semalaman saya kurang bisa tidur dengan nyenyak karena rombongan penghuni kamar sebelah yang cukup berisik serta adanya insiden mati lampu tengah malam di penginapan. Jadi terpaksa tidur-tidur ayam, sebentar tidur, sebentar lagi terbangun. Pagi itu setelah saya mendengar keriuhan di luar, saya segera bergegas bersiap-siap meninggalkan homestay untuk menuju spot Penanjakan 1. Untunglah ojek pesanan saya pagi itu sudah siap sedia mengantarkan saya berpetualang. Jangan ditanya dinginnya udara pagi itu, gigi saya pun dengan sukses bergemeletuk karena menahan hawa dingin pegunungan. Perjalanan menuju Penanjakan 1 melalui jalur Cemoro Lawang memang memberikan sensasi petualangan tersendiri. Selain jalur yang berupa lautan pasir yang memiliki kontor yang labil, belum lagi ditambah dengan kondisi yang gelap karena kurangnya penerangan, plus serbuan badai pasir yang berasal dari mobil Jeep yang lewat. Pokoknya diperlukan keahlian khusus untuk melewati medan yang satu ini. Sepanjang melewati jalur ini saya melihat beberapa pengendara sepeda motor yang terlihat kesusahan melewati jalur lautan pasir ini, ada yang kesasar karena tidak tahu jalur, ada pula yang ban motornya ambles di lautan pasir, terpaksa deh yang bonceng akhirnya harus turun dan mendorong si motor. Si mas tukang ojek pun hanya bercerita memang diperlukan pengalaman dan keahlian khusus untuk lewat di medan berpasir ini.

Setelah melewati ujian di lautan pasir, medan berikutnya yang harus dilalui adalah tanjakan-tanjakan yang cukup tajam dan jahanam. Sewaktu berangkat sih saya santai-santai saja, karena kondisi yang gelap jadi saya pikir jalanan cukup halus dan baik, tapi sewaktu saya pulang, saya baru menyadari bahwa ternyata jalan yang kami lalui tadi beberapa jalur tampak dalam kondisi yang parah, hanya bebatuan yang tidak rata dan terdapat tikungan-tikungan yang tajam. Tapi salut ya untuk si mas tukang ojek, dengan santainya bisa melalui jalur-jalur jahanam tersebut.

Jarak penginapan menuju Penanjakan 1 ini memakan waktu sekitar 35 menit perjalanan. Mendekati spot Penanjakan 1 sudah terlihat beberapa Jeep yang sudah tiba terlebih dahulu parkir di tepi jalan. Di sekitar spot ini terdapat beberapa warung yang sudah buka yang menjajakan mie, kopi, teh, maupun jagung bakar untuk mengganjal perut sekaligus menghangatkan badan. Enaknya naik motor adalah tempat parkirnya dekat dengan pintu masuk lokasi Penanjakan 1, jadi tak perlu jalan terlalu jauh untuk tiba di lokasi. Pagi itu saya beruntung karena datang lebih awal, belum terlalu banyak pengunjung yang berdatangan. Oh iya di spot Penanjakan 1 ini udaranya juga tidak kalah jahanam, dinginnya lumayan keterlaluan, ditambah dengan angin yang cukup kencang yang siap membuat Anda masuk angin jika tidak kuat. Tak heran banyak penduduk sekitar yang menjajakan jasa persewaan jaket tebal yang dibandrol dengan harga Rp 10.000,00 saja per-buah.


Tanpa berpikir panjang lagi setelah sampai di parkiran saya langsung menuju spot Penanjakan 1 untuk mencari lokasi yang saya anggap strategis. Untungnya pengunjung yang berdatangan belum terlalu banyak jadi saya lumayan leluasa untuk memilih lokasi yang saya anggap nyaman. Seandainya saya telat datang sudah dapat dipastikan saya tidak akan mendapatkan spot yang enak dan harus berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Saya pun harus bertahan di spot yang saya incar, menahan hawa dingin dan angin gunung yang cukup kencang menerpa badan. Ya, saya harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya semburat cahaya orange pun mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Yeah its perfect sunrise at Bromo ! Pemandangan matahari terbit yang cantik tanpa terhalang mendung sama sekali ! Tak hayal lagi pengunjung pun langsung berebut mengeluarkan kamera mereka untuk mengabadikan pemandangan cantik tersebut.


Habis gelap terbitlah terang, setelah matahari bersinar terang, kejutan selanjutnya yang nampak di depan mata adalah pemandangan alam yang luar biasa, sebuah lukisan alam yang terdiri dari Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru, dan lautan pasir yang beradu kecantikan, menyuguhkan pesonanya. Sungguh, sebuah lukisan alam yang sangat sempurna dari Sang Pencipta. Banyak pengunjung yang nekat melewati pagar pembatas untuk dapat berfoto dengan latar pemandangan tiga buah gunung tersebut. Yah, tangan saya pun dari tadi tidak dapat berhenti memainkan kamera, mengabadikan pemandangan alam ini. Oh iya sebagai informasi saja, lebih baik Anda menyediakan baterai cadangan untuk kamera Anda, karena udara dingin lumayan membuat daya tahan baterai cepat habis. Rasanya memang betah untuk berlama-lama di lokasi Penanjakan 1 ini, rasanya enggan untuk meninggalkan lokasi yang menyuguhkan pemandangan super cantik ini ! Tidak menyesal rasanya saya nekat sendirian ke Bromo kali ini, walaupun banyak teman saya yang berkomentar saya sudah gila jalan sendirian ke Bromo *salah sendiri ya diajak tapi tidak mau, menyesal kan lihat hasil jepretannya :P



Puas menikmati pemandangan di Penanjakan 1 saya pun bergegas kembali ke parkiran. Tapi, sebelum tiba di parkiran, saya menoleh ke arah barat dan melihat satu lagi pemandangan alam yang luar biasa indah. Saya menyebutnya bagai sebuah negeri di atas awan ! Pemandangan awan yang menutupi daerah perbukitan dan nampak pucuk-pucuk gunung di atasnya. Ya pemandangan seperti ini serasa kita sedang berada di sebuah negeri di atas awan, sungguh cantiknya luar biasa !  Susah bagi saya menggambarkan dengan kata-kata !


Ketika perjalanan menuruni bukit, si mas tukang ojek menawari saya untuk singgah di salah satu spot yang lumayan cantik. Di spot ini terdapat beberapa Jeep yang berhenti dan para travellers ini juga tak kalah heboh mengabadikan pemandangan Gunung Batok dan Gunung Bromo. Pemandangan di sini pun tak kalah indahnya. Hmmm... Bromo memang sungguh memberikan nuansa tersendiri bagi saya, memberikan kenangan yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya.

Trip To Bromo Day 3 : Ojek Motor pun Tetap Menjadi Pilihan Teman Menjelajah


Penjelajahan di Bromo hari berikutnya saya putuskan untuk mengguakan jasa ojek motor lagi. Ojek motor saya pilih karena harganya yang lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan jasa jeep. Ketika saya datang, si pemilik homestay langsung menawari saya pilihan kendaraan untuk menuju Penanjakan dan spot pendakian Bromo untuk keesokan harinya.  Biaya yang harus saya keluarkan untuk menyewa ojek adalah Rp 150.000,00 untuk rute Penanjakan 1, lokasi pendakian Bromo, padang savana dan bukit Teletubbies, dan juga lokasi pasir berbisik. Penjelajahan saya di hari ketiga ini memang rasanya seperti mengulangi penjelajahan di hari berikutnya untuk beberapa spot. 

Untuk pilihan kendaraan lainnya, Anda bisa menyewa Jeep atau lazim disebut hartop di sini. Biaya untuk sewa satu buah Jeep berkisar antara Rp 350.000,00 sampai dengan Rp 400.000,00 per-kendaraan. Satu buah Jeep biasanya diisi 6 orang penumpang. Jika Anda datang berombongan pastilah akan lebih murah untuk patungan menyewa Jeep, tapi jika Anda datang sendirian atau berdua, tak perlu khawatir karena Anda dapat sharing dengan travelers lainnya untuk menyewa Jeep. Biaya yang dikenakan biasanya sekitar Rp 100.000,00 per-orang untuk sharing Jeep ini. Tak perlu khawatir tidak mendapatkan teman untuk sharing Jeep, karena biasanya pihak pengelola penginapan akan mengurus dan mencarikan Anda kendaraan. Biaya sewa ini hanya untuk rute Penanjakan 1 dan spot pendakian Gunung Bromo saja lho, jika ingin ke padang savana,bukit Teletubbies maupun Pasir Berbisik tentu saja akan dikenakan biaya tambahan lagi, tergantung nego dengan si sopir. 

Nah, semua tergantung pilihan Anda. Jika Anda ingin memompa adrenalin di pagi-pagi buta tentu saja Anda dapat menyewa jasa tukang ojek di sini. Tapi jika Anda ingin sebuah kenyamanan, Anda dapat menggunakan Jeep sebagai kendaraan menuju Penanjakan 1 dan juga spot pendakian Gunung Bromo. 

Tuesday, June 26, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Menikmati Sunset "Negeri Di Atas Awan"


Setelah mampir ke Batu Singa dan Pasir Berbisik Bromo, motor kembali diarahkan menyisiri lautan pasir  Bromo dan melewati jalanan yang lumayan menanjak meninggalkan lokasi pasir berbisik. Saya kira sih perjalanan sore itu berakhir, tapi tiba-tiba saja saja motor di belokkan menuju salah satu spot yang lokasinya agak menaiki bukit dengan jalan setapak dan cukup menanjak, tepatnya di sebelah hotel Lava View. Lalu motor diparkirkan di semak-semak dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejenak menaiki bukit untuk mencapai lokasi yang dimaksudkan. Ternyata sore itu saya diajak ke salah satu spot untuk menikmati matahari terbenam alias sunset. Memang sih, pemandangan sunset di Bromo tidak semenarik seperti pemandangan sunrise yang sangat terkenal dan menjadi "menu" wajib ketika mengunjungi obyek wisata yang satu ini.


Pemandangan dari atas bukit pun cukup cantik. Kita dapat melihat pemandangan Gunung Bromo dan Gunung Batok yang letaknya bersebelahan diiringi sinar matahari yang perlahan meredup kembali ke peraduan. Satu hal yang menarik perhatian saya justru bukan pemandangan Gunung Batok dan Gunung Bromo dengan latar matahari terbenam, justru pemandangan cantik di sebelah timur, yaitu pemandangan awan yang tampak jingga kemerahan dengan pemandangan deretan pegunungan yang tertutup oleh deretan awan, ya serasa berada di sebuah negeri di atas awan. Pemandangan yang sangat sempurna sore itu. Lokasi perbukitan tersebut juga digunakan sebagai lokasi mendirikan tenda oleh beberapa wisatawan. Sepertinya lokasi tersebut memang cukup pas pula untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit atau sunrise. Tapi jangan ditanya bagaimana hawanya di lokasi tersebut, hawa dingin sangat terasa dan mulai membuat badan saya menggigil, tapi semua itu akan ada artinya dibandingkan dengan pemandangan cantik yang saya lihat.

Selesai menikmati pemandangan matahari terbenam, saya pun memutuskan untuk kembali ke homestay. Kebetulan waktu sudah petang dan lampu-lampu pun mulai dinyalakan. Suasana malam di kawasan Bromo lumayan sepi petang itu, mungkin saja banyak wisatawan yang memilih tinggal di dalam penginapan daripada keluyuran keluar dan kedinginan. Di sepanjang perjalanan hanya nampak penduduk sekitar yang sepertinya sedang menanti tamu yang baru saja datang dan menawarkan jasa-jasa mereka. Sebenarnya pulang menuju penginapan adalah satu hal yang paling mendebarkan saya, bukan karena medan jalan yang saya lalui, tapi berapa yang harus saya bayarkan kepada Pak Adit yang sore itu mengantarkan saya berkeliling sekalian menjadi pemandu saya selama perjalanan. Ya, sore itu saya kena charge Rp 150.000,00 untuk penjelajahan dadakan saya sore itu di kawasan di Bromo. Jika dinilai dari nominal memang cukup mahal, tapi kepuasan batin yang saya dapatkan sungguh luar biasa. Baik pemandangan alam yang disajikan di tempat-tempat yang saya jelajahi maupun share pengalaman saya dengan Pak Adit sungguh melengkapi perjalanan penjelajahan saya di Bromo hari pertama itu.

Sunday, June 24, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Mampir ke Batu Singa dan Menikmati Syahdunya Pasir Berbisik Bromo di Kala Senja


Setelah bercerita panjang lebar dan sempat curhat colongan di padang savana, Pak Adit kemudian mengajak saya untuk melanjutkan perjalanan menuju batu singa dan pasir berbisik. Kebetulan tak selang beberapa saat ketika saya sampai di padang savana ini, ada dua orang berboncengan motor yang menghampiri kami. Beliau ternyata tamu hotel yang penasaran dengan kondisi padang savana Bromo ini. Dari kejauhan sih si pengendara motor memang tidak selincah Pak Adit ketika mengendarai motor. Ternyata beliau ini adalah tour guide dari salah satu hotel yang cukup terkenal di Bromo dan bukan masyarakat asli Tengger seloroh Pak Adit, jadi maklum jika dalam mengendarai motor kurang begitu terampil dalam menghadapi medan lautan pasir yang konturnya lumayan labil. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan tamu hotel tersebut, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.



Pak Adit mengajak saya mengunjungi batu singa yang lokasinya berada di antara lautan pasir Bromo, tidak jauh dari lokasi pasir berbisik. Saya malah belum tau jika di lautan pasir Bromo ini ada batu yang bentuknya seperti singa, karena berdasarkan informasi yang saya cari di internet memang jarang sekali yang membahas keberadaan batu singa ini. Perjalanan dari savana menuju lautan pasir lagi-lagi dilakukan dengan manuver-manuver jahanam. Pak Adit dengan santainya menarik gas lumayan kencang melewati medan pasir Bromo yang tanahnya gembur nan labil. Hampir beberapa kali adrenalin saya terpompa hingga jantung saya rasanya hampir copot karena ulah Pak Adit yang hampir saja kehilangan kendali motor, tapi tetap saja pada akhirnya beliau sukses mengendalikan motor GL Pro miliknya itu. Lagi-lagi saya hanya bisa pasrah diboncengkan oleh beliau.


Tak selang beberapa lama kemudian kami tiba di batu singa yang diceritakan oleh Pak Adit sebelumnya. Dari kejauhan saya masih belum paham di mana letak bentuk singanya. Tapi,setelah mendekat saya pun bisa menikmati bentuk batu singa yang unik itu. Batu tersebut memang bentuknya seperti pose singa jantan yang sedang merebahkan dirinya, dengan pose kepala yang masih siaga. Sungguh cantik dan luar biasa bentuknya, benar-benar mirip seperti singa sungguhan. bentuk singa jantan yang khas dengan rambutnya yang mengelilingi kepala. Amazing !


Puas berfoto-foto dengan si "singa", Pak Adit langsung mengajak saya ke spot berikutnya yaitu lokasi pasir berbisik. Awal tiba di lokasi otak saya susah mencerna kenapa lokasi tersebut dinamakan pasir berbisik. Isinya sih beberapa bebatuan besar yang tergeletak di tengah-tengah lautan pasir. Sampai akhirnya Pak Adit bercerita lokasi tersebut dinamakan Pasir Berbisik karena spot tersebut merupakan lokasi syuting film "Pasi Berbisik" yang dirilis sekitar tahun 2002, yang tidak percaya monggo silahkan lihat kembali film tersebut :P



Suasana sore itu sudah mulai agak gelap karena matahari mulai kembali ke peraduan. Suasananya pun cukup hening karena lokasi pasir berbisik ketika sore memang sepi. Hanya terlihat Gunung Batok di sebelah barat yang agak samar terlihat karena cahaya matahari yang semakin meredup. Saya pun bertanya kepada Pak Adit adakah sunset di Bromo, karena yang saya ketahui hanya pemandangan sunrise yang menjadi salah satu daya tarik kawasan Bromo ini. Saya hanya mengambil gambar beberapa saja, karena udara yang mulai terasa dingin dan saya lupa membawa sarung tangan. Dan lagi-lagi tanpa komando dari saya, Pak Adit langsung membawa saya ke satu spot untuk menyaksikan sunset

Friday, June 22, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Padang Savana dan Bukit Teletubbies pun Terjelajahi


Keasyikan menikmati pemandangan di Bromo view sambil memainkan kamera dan berbincang-bincang dengan si bapak tukang ojek yang ramah itu, akhirnya tanpa babibu si bapak tukang ojek pun mengajak saya untuk menyusuri padang savana dan menjelajahi bukit Teletubbies yang menjadi salah satu spot favorit pengunjung di Bromo. Sebenarnya masih belum puas sih untuk sejenak menikmati pemandangan alam yang berada di depan mata, lebih tepatnya tidak akan pernah ada kata puas, bisa-bisa saya habiskan waktu berjam-jam duduk termenung melihat lukisan alam nan elok ini. Menurut beliau memang masih belum banyak turis yang tertarik mengunjungi spot ini karena kebanyakan yang diketahui pengunjung hanya lokasi penanjakan Bromo untuk melihat sunrise, spot pendakian Gunung Bromo dan pasir berbisik saja. Padahal menurut beliau pemandangan alam di savana juga tak kalah cantik dengan spot-spot yang menjadi landmark di Bromo. 


Konon pemberian nama bukit Teletubbies ini bukan berasal dari sebutan masyarakat Tengger, melainkan sebutan dari para pengunjung karena lokasi bukit ini mirip dengan rumah para Teletubbies, salah satu film anak-anak yang cukup terkenal di awal tahun 2000-an. Untuk menuju savana dan bukit Teletubbies ini kami harus berjalan menuruni perbukitan dengan jalan yang cukup membuat jantung hampir copot. Si bapak tukang ojek sih santai-santai saja karena beliau sudah sangat mahir dan akrab dengan kondisi jalan yang dilalui. Saya yang dibonceng pun hanya bisa pasrah menyerahkan nasib saya kepada si bapak. Walaupun jalannya bikin deg-degan tapi pemandangan di sekitar perjalanan dapat sedikit menghibur saya hingga akhirnya rasa panik itu perlahan hilang. 

Untuk menuju savana kami harus melewati dulu pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger dengan membayar tiket di loket masuk. Tiket yang harus dibayarkan sebesar Rp 6.000,00 per-orang. Si bapak tukang ojek berpesan agar saya menyimpan tiket tersebut untuk penjelajahan esok hari. Jalan dari loket masuk menuju padang pasir Bromo lumayan ekstrim juga dengan kontur jalan yang menurun serta kondisi aspal yang rusak, mungkin karena teergerus erupsi Bromo beberapa tahun silam dan belum ada perbaikan. Setelah jalanan menurun dengan kondisi aspal yang parah, cobaan berikutnya adalah mengarungi lautan pasir Bromo yang luas. Bagi yang belum berpengalaman mengendarai motor di atas pasir mungkin saja akan mengalami banyak kesulitan, mulai dari menjaga keseimbangan dan memilih jalur untuk dilewati karena di jalanan pasir ini memang tidak ada jalur yang tetap untuk dilewati, semua tergantung si pengendara. Memang sih rata-rata pengunjung lebih memilih menyewa jeep atau hartop untuk melewati jalur ini.


Tapi sensasi dibonceng oleh si bapak tukang ojek melewati lautan pasir Bromo ini sungguh sangat memompa adrenalin. Si bapak dengan santainya menarik gas motor dengan kecepatan yang cukup tinggi, dengan medan yang labil bahkan terkadang hampir kehilangan keseimbangan, namun dengan cekatan si bapak dapat mengatasi semua. Salut lah untuk si bapak tukang ojek Bromo ini :P


Di tengah-tengah lautan pasir si bapak berhenti sejenak untuk menangkat telepon. Tenang saja walaupun di tengah-tengah padang pasir gersang seperti ini tapi sinyal telepon seluler cukup kencang kok, walau hanya untuk beberapa operator saja sih. Selama pemberhentian ini kami berpapasan dengan jeep yang baru saja selesai menjelajah padang savana. Jangan ditanya bagaimana kondisinya ketika berpapasan dengan jeep, badai pasir dadakan pun siap menerpa badan. Untung saja sih saya sudah mempersiapkan diri untuk membawa masker sebagai bekal menjelajahi lautan pasir. Ketika berpapasan antara sopir jeep dengan bapak tukang ojek saling bersapa satu dengan yang lain. Ya menurut saya masyarakat Tengger memang ramah dan cukup rukun. 


Setelah beristirahat sejenak perjalanan pun dilanjutkan. Tidak berapa lama kemudian kami tiba di savana Bromo, sungguh pemandangan yang sangat kontras, di mana tadi kami melewati lautan pasir dengan kondisi yang sangat gersang dan tandus, kemudian kami tiba di padang savana yang sangat subur ditumbuhi tanaman dan juga kontor tanahnya yang cenderung landai. Kondisi yang sangat kontras di lokasi yang cukup berdekatan. Sore itu matahari bersinar sangat cerah, langit pun berwarna biru cerah, sangat cerah, jarang sekali saya menemukan warna langit yang secerah ini, mungkin sih karena lokasinya yang berada di pegunungan dengan tanaman yang masih melimpah serta emisi gas kendaraan bermotor yang tidak seberapa banyak.


Si bapak tukang ojek pun mengarahkan motornya menuju salah satu spot yang menurut beliau lebih enak untuk menikmati padang savana dan juga bukit Teletubbies. Spot ini sangat menarik karena setiap musim warna yang ditimbulkan berbeda-beda, misalnya pada musim penghujan seluruh perbukitan akan berwarna hijau, berwarna-warni ketika bunga-bunga bermekaran, dan berwarna kecokelatan ketika musim kemarau. Konon katanya juga ketika musim kemarau sering terjadi kebakaran di padang savana ini, menurut beliau ini merupakan siklus dari bukit itu. Kebakaran yang terjadi pun disyukuri karena akan mempercepat datangnya semi tanaman-tanaman baru yang akan menyelimuti bukit. Ketika saya datang banyak tanaman yang mulai kering, namun sebagian besar masih terlihat hijau, maklum lah bulan Juni memang awal datangnya musim kemarau.

Saya pun turun dari motor dan mulai memainkan kamera saya, pokoknya asal jepret saja lah. Suasana di padang savana ini sungguh nyaman, tenang, tentram, hawanya pun cukup hangat karena matahari bersinar cukup terik. Anehnya sih di Bromo ketika musim kemarau seperti ini matahari masih saja cerah walaupun di jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 17.00 lebih. Sementara saya keasyikan menikmati padang savana dan bukit Teletubbies, si bapak sepertinya sedang galau menerima telepon dari istrinya yang meminta jatah nafkah. Hehehe...si bapak tadi sempat curcol sih ketika kami berhenti di lautan pasir :P


Saya biarkan si bapak yang sedang galau menerima telepon dari istrinya dan hilang antah berantah selama beberapa saat. Saya pun merebahkan badan di atas hamparan tanaman-tanaman di savana tersebut, sejenak bersyukur menikmati keindahan alam yang dianugerahkan di depan mata saya ini. Hmmm...sungguh nikmatnya hidup ini jika kita dapat menyatu dengan alam. Tak selang beberapa saat si bapak tadi datang dan malah curhat colongan, ya tak apalah mendengarkan keluh kesah beliau. Dari situ kami berkenalan dan si bapak tersebut bernama Pak Adit, yang katanya adalah ketua paguyuban tukang ojek di Bromo, wow tanpa disangka saya bertemu dengan salah satu tokoh penting di Bromo, hehehe. Padang savana dan bukit Teletubies ini menurut saya memang salah satu spot yang cukup nyaman untuk sejenak merenung dan merefleksikan diri, maupun untuk ber-quality time bersama orang-orang yang Anda sayangi, entah pacar, teman, maupun keluarga. Tempat ini juga cocok kok untuk bergalau ria sambil menikmati hamparan perbukitan yang berwarna hijau kecokelatan. 


Sore itu kami habiskan dengan mendengarkan cerita dari Pak Adit mengenai lokasi-lokasi di balik bukit yang mengelilingi Bromo. Di balik bukit tersebut terdapat danau Ranu Pane yang cukup indah, lalu juga beliau bercerita tentang jalur masuk ke Bromo melalui Malang yang tembus di padang savana ini. Di jalur Malang-Bromo tersebut kita bisa singgah sejenak menikmati keindahan Coban Pelangi. Beliau juga bercerita panjang lebar mengenai pendakian Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Kata beliau sih jika kita ingin mendaki Gunung Semeru tidak diperkenankan berjumlah ganjil, minimal empat orang, dan setiap orang akan didampingi oleh dua orang pemandu yang berasal dari petugas Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Gunung Semeru memiliki beberapa jalur pendakian, dan jalur-jalur tersebut memiliki cabang-cabang yang sering membingungkan bagi pendaki. Tak jarang memang banyak pendaki yang tersesat karena tidak mengikuti aturan pendakian di Gunung Semeru. Hmmm...saya jadi penasaran ingin mendaki Gunung Semeru :D

Trip To Bromo Day 2 : Mendadak "Diculik" Ke Bromo View


Puas menikmati pesona Gunung Batok, tiba-tiba saja ada bapak-bapak yang menghampiri saya. Si bapak memang sejak tadi "mangkal" di dekat hotel yang bersebelahan dengan homestay yang saya tinggali. Si bapak tersebut menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke salah satu titik di mana pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru akan terhampar jelas, berhubung cuaca siang itu sedang bagus jadi pemandangan yang disuguhkan pun tak kalah bagus pungkasnya. Awalnya saya ragu karena hal tawaran ini jelas-jelas di luar dari rencana pengeluaran saya. Si bapak tersebut menawarkan diri untuk mengantarkan saya dengan menggunakan motor miliknya. Si bapak tersebut menawarkan jasanya dengan upah Rp 30.000,00 saja di mana harga normal biasanya dibandrol dengan harga Rp 50.000,00. Ya mungkin saja harga segitu untuk tamu-tamu yang menginap di hotel, bukan seorang backpacker seperti saya ini. Hmmm...awalnya saya cuek saja sih dengan tawaran si bapak itu, tapi si bapak itu tetap kekeuh dengan jurus rayuan-rayuan pamungkasnya sampai pada akhirnya rayuannya pun berhasil meluluhkan saya. Oke saya pun menyepakati tawaran si bapak tersebut. Lokasi view yang dijelaskan oleh bapak si tukang ojek ini memang bukan merupakan titik penanjakan utama yang biasa dikunjungi untuk menikmati sunrise, namun lokasi ini menjadi salah satu alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati sunrise dengan berjalan kaki.


Dari sini mulailah kisah "penculikan" saya oleh si bapak tukang ojek itu. Jalanan yang dilalui untuk mencapai lokasi cukup menanjak, walaupun tidak terlalu ekstrim, tetapi jalanan aspal yang dibuat sudah banyak yang rusak, jadilah jalan tersebut hanya seperti konstruksi bebatuan yang ditata sedemikian rupa. Kontur jalan yang rusak seperti itu cukup membuat badan rontok, walaupun waktu tempuh yang diperlukan dari sekitar homestay menuju lokasi berkisar 10 menit saja. Setelah sampai di lokasi memang pemandangan yang disajikan sangat luar biasa. Sebuah lukisan alam yang sangat cantik terhampar di depan mata kepala saya. Perpaduan komposisi alam yang cantik antara Gunung Bromo, Gunung Batok, dengan latar belakang Gunung Semeru serta deretan perbukitan yang sangat cantik, dipadukan dengan awan yang berwarna biru cerah. Tangan saya pun rasanya tidak ingin berhenti untuk mengabadikan lukisan alam ini.


Untungnya sih si bapak tukang ojek tadi orangnya santai dan ramah. Beliau malah bercerita panjang lebar mengenai lokasi-lokasi mana saja yang wajib dikunjungi ketika kita menjelajahi Bromo. Beliau juga menjelaskan satu per satu nama-nama bukit yang mengelilingi Bromo, sayang saya kurang bisa mengingat dengan baik penjelasan beliau. Lokasi ini berada di tempat yang cukup tinggi, sehingga udara di sini sudah lumayan terasa dingin walaupun masih sekitar pukul 15.00 dengan kondisi matahari masih bersinar dengan cerah. Selain udara yang cukup dingin, kita juga dapat merasakan suara angin gunung yang bergemuruh. Suasana yang syahdu, berada di ketinggian bukit dengan pemandangan alam yang terhampar sungguh luar biasa. Rasanya memang semakin betah saja untuk berlama-lama di tempat ini sambil menikmati suasana hening serta pemandangan alam yang indah terhampar di depan mata.

Thursday, June 21, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Terpesona Keindahan Gunung Batok dan Badai Pasir Bromo



Setelah membereskan barang-barang di dalam homestay, saya pun nekat memberanikan diri untuk mandi mencicipi dinginnya air di Bromo. Hanya ingin sekedar membuktikan seberapa dinginnya air di sini, walau di sisi lain sebenarnya sudah tidak betah dengan kondisi badan yang berkeringat gara-gara disauna di dalam bison jahanam tadi. Air di Bromo memang lumayan dingin sih, tapi menurut saya tidak sedingin es kok *ya iyalah saya mandi di siang bolong*



Setelah berganti pakaian, saya pun melanjutkan jalan-jalan di sekitar homestay. Pemandangan di sekitar homestay lumayan cantik, mulai dari hamparan perumahan penduduk, hamparan ladang-ladang yang berisi tanaman sayuran, tebing-tebing berwarna hijau, dan yang menjadi magnet adalah pemandangan Gunung Batok yang bisa Anda temui dengan berjalan kaki beberapa langkah saja. 


Gunung Batok ini merupakan salah satu daya tarik pemandangan di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ini. Entah mengapa gunung ini disebut Gunung Batok, atau mungkin karena bentuknya yang mirip dengan batok kelapa yang ditengkurapkan? Hahaha, yang pasti Gunung Batok ini memiliki pemandangan yang cantik, berwarna kehijauan dan memiliki tektur garis-garis yang indah, serta di sekitarnya dikelilingi oleh lautan pasir Bromo yang luas itu. Rasanya ingin terjun untuk segera menjamah Gunung Batok itu, tapi saya masih sayang dengan nyawa saya kok, hehehe.



Seperti tersihir dengan pesona keindahan Gunung Batok ini membuat saya betah berlama-lama duduk sambil menikmati keindahan pemandangan alam yang disajikan di depan mata saya ini. Kebetulan siang itu saya bertemu dengan sepasang bule asal Swiss. Saya memberanikan diri untuk mengajak berbincang-bincang dengan Bahasa Inggris saya yang acak adut. Dari perbincangan singkat itu, kedua bule tersebut sangat mengangumi keindahan alam dan keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Yak, selayaknya kita memang harus bangga menjadi orang Indonesia dengan kekayaan alam dan keanekaragaman budaya yang kita miliki.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com