Saturday, September 17, 2011

Lewat Di Depan Gedung Agung Yogyakarta


Puas menyusuri Monumen Serangan Umum 1 Maret, langkah kaki saya tujukan untuk menyeberangi jalan, melihat kemegahan Gedung Agung Yogyakarta. Bangunan ini terletak di ujung selatan Jalan Ahmad Yani atau yang lebih dikenal dengan Jalan Malioboro. Pada masa penjajahan Hindia Belanda, gedung ini menjadi tempat tinggal para Gubernur Jendral Belanda yang mendiami Kota Yogyakarta.

Pada masa awal berdirinya pemerintahan Republik Indonesia, di mana ketika ibukota negara sementara dipindahkan ke Kota Yogyakarta, gedung agung ini menjadi Istana Kepresidenan sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.

Gedung Agung sekarang ini berfungsi sebagai Istana Kepresidenan yaitu sebagai kantor sekaligus kediaman resmi Presiden Republik Indonesia, juga digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu dan juga tempat menginap tamu-tamu negara. 

Untuk dapat mengelilingi kompleks Gedung Agung secara keseluruhan, biasanya pengunjung harus membawa surat pengantar dari instansi tempat asal si pengunjung tersebut untuk memperoleh izin dari pihak Gedung Agung. Terkadang pada saat-saat tertentu ada acara gratis untuk mengunjungi Gedung Agung, dengan syarat menggunakan pakaian yang sopan (seperti mengenakan celana kain bagi pengunjung laki-laki), menggunakan kemeja atau batik, serta mengenakan sepatu.

Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949


Setelah selesai menyusuri Benteng Vredeburg, saya melanjutkan langkah kaki saya menuju titik nol kilometer. Saya ingin menyambangi Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 yang kini menjadi salah satu cagar budaya di Yogyakarta. Monumen Serangan Umum 1 Maret ini terletak masih satu kompleks dengan Benteng Vredeburg atau tepatnya berada di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Jika dahulu pengunjung dari Benteng Vredeburg dapat langsung memasuki pelataran monumen, tetapi kemarin ketik saya ke sana, pintu gerbang menuju pelataran monumen ditutup, entahlah saya tidak tahu alasannya. 


Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa perjuangan TNI yang berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam dari tangan Belanda. Hal ini memperlihatkan kepada dunia bahwa Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak lumpuh seperti yang dipropagandakan oleh Belanda. Monumen ini akan mengingatkan kita akan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dalam melawan penjajah Belanda di masa lalu.

Kini fungsi monumen ini selain sebagai cagar budaya, pada saat-saat tertentu tertutama saat Hari Besar Nasional seperti Hari Kemerdekaan atau Hari Pahlawan, monumen ini sering digunakan untuk memperingati hari besar tersebut. Selain itu terkadang monumen ini dijadikan sebagai tempat untuk menggelar konser musik dan juga pagelaran kebudayaan.

Friday, September 16, 2011

Benteng Vredeburg - Cagar Budaya Paling Terkenal di Kawasan Malioboro


Setelah liburan selama hampir satu bulan lebih, akhirnya saya kembali ke kota Yogyakarta untuk melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Liburan kali ini saya memang tidak menghabiskan waktu untuk pergi mengunjungi tempat-tempat yang menarik karena kebetulan liburan semester ini bertepatan dengan bulan puasa, jadi lebih baik saya menghabiskan waktu di rumah. Lama tidak menulis seperti menimbulakan rasa ketergantungan, atau boleh dibilang sakau.


Siang ini kebetulan saya tidak ada kelas, karena kelas dimulai sore. Sudah lama juga tidak menulis di blog karena saya kehabisan bahan untuk ditulis (oke ini alasan klasik). Setelah dari pagi saya browsing di internet tempat-tempat di Jogja, tiba-tiba saya teringat jika belum pernah menulis mengenai Benteng Vredeburg. Tanpa berfikir panjang lagi saya segera berkemas dan bergegas menuju lokasi yang tak seberapa jauh dari daerah kost-an saya. Ketika saya di jalan sempat saya berpikir bahwa terkadang dalam melakukan sesuatu tidak perlu melakukan sebuah perencanaan terlebih dahulu.


Benteng Vredeburg ini berlokasi di Jalan Ahmad Yani No. 6 Yogyakarta, satu kawasan dengan Malioboro, sebelum titik nol kilometer, terletak di depan Gedung Agung. Akses menuju kawasan ini wisata sejarah ini cukup mudah karena lokasinya yang terletak di jantung kota Yogyakarta. Jika dari stasiun Tugu tinggal berjalan kaki menuju arah Malioboro lalu berjalan terus ke selatan sebelum perempatan titik nol kilometer, jika ingin lebih cepat bisa menggunakan jasa becak, andong dsb. Untuk yang menggunakan jasa bus Trans Jogja, Anda juga langsung bisa turun di depan Gedung Agung, lalu berjalan kaki sebentar.


Tiket masuk untuk dapat menikmati Benteng Vredeburg adalah Rp 2.000,00 per orang. Dahulu sebelum pertengahan tahun 2010 harga tiket masuk hanya Rp 750,00 per orang. Setelah mendekati lokasi saya memilih untuk memarkirkan motor di sekitar Malioboro dan memilih berjalan kaki agar lebih leluasa berkeliling. Jika dilihat sekilas bangunan benteng ini masih nampak begitu terawat karena renovasi bangunan yang dilakukan tanpa merubah bangunan aslinya. 



Benteng ini dahulu dibangun oleh pihak Belanda guna mengawasi kegiatan Keraton Yogyakarta di jalam kolonial, serta digunakan untuk menahan serangan dari keraton kepada Belanda. Benteng Vredeburg berbentuk segi empat, memiliki menara pengawas di masing-masing sudutnya yang digunakan Belanda untuk berjaga-jaga dan mengawasi keadaan serta melepaskan tembakan jika diperlukan.


Kini bangunan Benteng Vredeburg ini berfungsi sebagai museum yang menyimpan berbagai koleksi, seperti diorama-diorama di beberapa ruangan, benda-benda bersejarah, foto-foto dan lukisan perjuangan nasional ketika merintis, memperoleh, mempertahankan serta mengisi kemerdekaan negara Republik Indonesia.


Mengunjungi Benteng Vredeburg dapat menambah pengetahuan kita mengenai sejarah nasional Indonesia, karena di setiap diorama dan koleksi benda bersejarah ini dilengkapi dengan tulisan yang berisikan informasi tentang peristiwa yang terjadi di masa itu.



Di Benteng Vredeburg Anda juga bisa memuaskan hasrat untuk bernarsis ria dengan latar belakang bangunan tua, atau hanya sekedar menikmati keindahan bangunan di lokasi ini. Satu tempat yang saya sukai adalah berada di atas benteng, menikmati pemandangan lalu lintas Yogyakarta yang cukup padat dengan latar belakang bangunan Bank BNI dan juga Kantor Pos Besar Yogyakarta.


Selain berfungsi sebagai museum, beberapa gedung di Benteng Vredeburg juga digunakan sebagai tempat untuk seminar, pameran lukisan ataupun kegiatan budaya lainnya.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com