Monday, August 22, 2011

Candi Sari, Candi dengan Bentuk Bangunan Persegi



Setelah mengunjungi Candi Kalasan, penjelajahan saya lanjutkan ke Candi Sari yang berjarak tidak jauh dari Candi Kalasan. Awalnya kami tidak tahu arah dan jalan menuju Candi Sari, berbekal nekat dan bertanya kepada satpam di Candi Kalasan, kami akhirnya diberi tahu jalan menuju Candi Sari yang ternyata jaraknya cukup dekat dengan Candi Kalasan. Candi Sari terletak di sebelah timur laut Candi Kalasan, ancer-ancernya cukup mudah yaitu dari Candi Kalasan kita menyeberang jalan menuju arah timur (arah ke Candi Prambanan), lalu lihat ada rumah makan yang ada pohon beringinnya di seberang jalan, nah dari situ ada gang kecil di kiri jalan, lalu masuk saja, tak jauh dari Jalan Solo-Jogja tersebut kita sampai di Candi Sari.


Candi Sari ini secara administratif berada di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi Sari merupakan candi yang bercorak Budha, menurut cerita tempat ini dahulu adalah sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai asrama bagi para pendeta dan Candi Kalasan adalah sebagai tempat pemujaannya.


Candi ini menurut saya cukup unik karena bentuknya yang persegi panjang dan tidak teralu tinggi bangunannya. Pintu masuk menghadap ke arah timur, dan di bagian sisi bangunan candi tersebut terdapat arca-arca pahatan yang masih cukup terawat, walau ada beberapa bangunan yang kondisinya rusak. Ada yang unik menurut saya karena di bagian atas candi terdapat bangunan yang mirip dengan bangunan di Candi Borobudur.


Candi Sari terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk. Sebagai pembatas areal candi dengan rumah penduduk diberi pagar pembatas. Untuk masuk ke areal candi ini kita cukup membayar Rp 2.000,00 saja per-orang. Dan sekali lagi di sini tidak ada guide atau pemandu, untuk mengetahui sejarah candi ini hanya tersedia papan yang berisi penggalan sejarah Candi Sari ini.

Candi Kalasan - Bangunan Suci Untuk Dewi Tara



Setelah mengunjungi Panggung Krapyak, saya dan teman saya melanjutkan perjalanan menuju ke Jalan Solo arah ke Prambanan. Kali ini saya dan teman saya bukan untuk mengunjungi Candi Prambanan, melainkan candi-candi kecil yang berada di sekitar wilayah tersebut. Penjelajahan pertama adalah mengunjungi Candi Kalasan yang merupakan Candi Budha, berbeda dengan candi-candi lain yang tersebar di sekiataran Candi Prambanan yang bercorakkan Hindu. Candi Kalasan ini terletak di Kalibening, desa Tirtomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jarak dari Candi Prambanan sekitar dua kilometer ke arah barat (arah ke Yogyakarta) jika dari arah Solo, atau jika ditempuh dari arah Yogyakarta kurang lebih 15 kilometer ke arah timur. Untuk akses ke lokasi cukup mudah karena terletak persis di pinggir jalan raya Jogja – Solo sehingga cukup mudah untuk mengaksesnya dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.


Untuk memasuki kompleks Candi Kalasan ini cukup membayar sebesar Rp 2.000,00 per orang dan bebas biaya parkir. Di sekitar pos penjagaan hanya terdapat seorang satpam yang berjaga sekaligus menariki iyuran masuk. Sayang di sini tidak ada pemandu atau guide untuk menemani pengunjung mengelilingi kompleks candi ini. Hanya terdapat papan di sebelah timur yang menceritakan sejarah mengenai Candi Kalasan ini dan saya cukup menyesal tidak membaca sejarahnya tersebut.


Candi dengan tinggi sekitar 45 meter ini sangat indah. Dari kejauhan terlihat kecil namun ketika dilihat dari dekat candi ini cukup besar juga. Sayang saya tidak terlalu menikmati detail dari candi ini karena cuaca yang cukup panas dan dalam kondisi puasa jadi saya harus pintar-pintar mengehemat tenaga saya.


Menurut saya Candi Kalasan ini cukup megah, hanya sayang sepertinya proses restorasi dan perbaikan candi masih belum sempurna dikerjakan karena masih ada beberapa tumpukan batu yang belum terbentuk secara sempurna di beberapa sisi. Di beberapa sudut halaman diletakkan arca-arca yang sudah tidak lagi utuh bentuknya. Sangat disayangkan memang peninggalan bersejarah ini dibiarkan begitu saja.


Untuk Anda yang suka wisata sejarah, khususnya menjelajahi candi-candi, Candi Kalasan ini bisa dijadikan salah satu lokasi yang bisa menjadi pilihan Anda kunjungi ketika berada di Yogyakarta.

Mampir ke Panggung Krapyak



Setelah puas berkeliling di Tembi Rumah Budaya, perjalanan saya lanjutkan menuju ke utara, yaitu menuju ke arah Panggung Krapyak. Panggung Krapyak ini terletak di sebelah selatan Keraton Yogyakarta. Untuk menuju ke tempat ini cukup mudah, dari arah Alun-Alun Kidul menuju ke arah bangunan Plengkung Gading lalu jalan lurus ke arah selatan. Bangunan ini terletak tepat di tengah-tengah jalan sehingga sangat mudah ditemukan. Sekilas bangunan ini mirip-mirip dengan bangunan yang ada di Taman Sari. Panggung Krapyak berbentuk persegi empat dengan dinding yang terbuat dari batu bata dan dilapisi dengan semen cor.


Menurut beberapa sumber yang saya baca, Panggung Krapyak ini digunakan oleh raja-raja Keraton Yogyakarta untuk berburu. Di sekitar Panggung Krapyak ini konon dahulu adalah hutan yang lebat,  salah satu hewan yang menjadi binatang buruan raja-raja tersebut adalah rusa atau dalam bahasa Jawa disebut dengan menjangan. Bangunan Panggung Krapyak hingga kini masih cukup terawat dan terlihat masih kokoh. Bangunan ini memiliki dua lantai, di mana lantai pertama memiliki pintu dan jendela yang terhubung dalam sebuah lorong. Hanya untuk menjaga kelestariannya kini di pintu-pintu dan jendela tersebut dipasang teralis besi sehingga pengunjung tidak bisa memasuki bangunan. Di lantai dua inilah konon digunakan raja-raja Yogyakarta untuk mengintai buruannya.

Panggung Krapyak ini merupakan bangunan yang secara imajiner kota Yogyakarta merupakan bangunan yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak dan Laut Selatan yang secara filosofi menggambarkan fase-fase dalam kehidupan manusia.

Mengunjungi Panggung Krapyak ini tidak dipungut biaya apapun, hanya saja letakkan yang berada di tengah jalan di perkampungan mengharuskan Anda untuk berhati-hati memarkir kendaraan dan juga bila ingin memotret Anda harus jeli serta hati-hati karena situasi jalan yang cukup ramai lalu lalang kendaraan yang lewat.

Tembi Rumah Budaya



Akhirnya saya mendapatkan bahan juga untuk menulis blog ! Terima kasih saya ucapkan kepada teman sekaligus antek-antek dalam melakukan penjelajahan yaitu Ian Riyanti yang sudah menjemput saya di stasiun dan memberikan tumpangan untuk one day trip nya di Jogja. Tujuan pertama kami pagi itu sebenarnya ke Taman Budaya Yogyakarta untuk melihat pameran, tetapi menurut teman saya tersebut pameran tersebut kurang menarik, lalu kami memutuskan untuk mengarahkan motor menuju ke daerah Bantul. Tujuan kami adalah mengunjungi Tembi Rumah Budaya. Tembi Rumah Budaya berlokasi di Jalan Parangtritis KM 8,4 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Untuk menuju ke lokasi ini cukup mudah dicari, yaitu tinggal arahkan saja kendaraan menuju Jalan Parangtritis, setelah sampai di Kampus ISI Yogyakarta, lurus ikuti jalan hingga menemui pertigaan lampu merah, dari pertigaan lampu merah tersebut lurus sedikit hingga menemui pertigaan kecil lalu belok ke kiri kurang lebih 500 meter dari Jalan Parangtritis. Tak perlu bingung karena terdapat papan petunjuk jalan yang cukup jelas dan mudah dipahami.



Sepengetahuan saya, di Tembi ini selain terkenal sebagai tempat penyelenggaraan pameran seni juga terdapat bale inap (penginapan) dengan konsep desa alami dan sederhana, selain itu juga terdapat ruangan untuk mengadakan pertemuan serta acara seminar dan sebagainya. Di Tembi juga terdapat balai dokumentasi yang berisi koleksi benda-benda lama dan juga buku-buku maupun naskah-naskah lama. Saya dan teman saya tertari untuk mengunjungi balai dokumentasi ini. Ketika datang di lokasi, kami berdua masih ragu untuk masuk karena sepertinya akan digelar acara, akhirnya kami memberanikan diri untuk masuk dan parkir ke lokasi, kemudian bertanya kepada satpam tempat balai dokumentasi tersebut. Dengan ramah si pak satpam tersebut menunjukkan kepada kami lokasi balai dokumentasi yang terletak persis di belakang halaman depan.



Di ruang pertama yang saya kunjungi merupakan galeri seni bagi para seniman yang ingin memamerkan karya seninya. Ketika saya berkunjung sedang dipamerkan beberapa karya seni abstrak yang sepertinya bahannya terbuat dari bahan-bahan daur ulang, seperti kursi yang terbuat dari kaleng bekas di bagian tempat duduk dan sandarannya, ada pulau replika seperti benteng lengkap dengan pasukannya, lalu ada pula cermin dan pintu yang diberi hiasan lukisan dari cat sehingga menambah sentuhan artistiknya.











Lanjut menuju ruang pameran yang kedua, di sini terdapat koleksi keris-keris, lalu ada peralatan yang digunakan dalam pentas wayang, peralatan membatik, sebuah piano kuno, beberapa tombak, serta replika bangunan kamar rumah Jawa yang terdiri dari bangunan utama di bagian tengah yang berfungsi sebagai tempat tidur utama sekaligus sebagai tempat menyimpan benda pusaka, sentong kiwo (kiri) yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan, serta sentong tengen (kanan) yang digunakan sebagai tempat tidur anak. Di ruangan ini dipamerkan juga bebebrapa topeng yang menggambarkan tokoh pewayangan, lalu juga sepasang manekin yang mengenakan pakaian adat Jawa. Ruangan ini digunakan pula sebagai tempat kerja beberapa karyawan yang sepertinya bertugas di balai dokumentasi. Di ruang ini kami dipersilahkan untuk mengisi buku tamu oleh bapak-bapak yang sepertinya pegawai di balai dokumentasi ini.








Lanjut menuju ruangan yang ketika, di sini terdapat beberapa buku dan naskah kuno yang masih terawat dengan baik, sepeda onthel kuno buatan Eropa, sepeda motor kuno yang bentuknya sangat klasik, lalu ada sebuah radio kuno dan juga piano kuno peninggalan dari istri Dr. Yap yang kemudian dijual (saya agak lupa sejarahnya). Koleksi-koleksi yang cukup menarik menurut saya.





Selesai menjelajahi ruang pameran, saya dan teman saya lanjut jalan-jalan di kompleks Tembi ini. Menuju ke arah belakang ada ruangan yang digunakan untuk pertemuan dan seminar. Di sisi paling belakang terdapat sebuah tempat yang mirip dengan pagelaran tari, yang menurut pegawai di situ, tempat tersebut biasa digunakan untuk pagelaran seni tari dan juga acara pernikahan dengan latar outdoor. Di sekitar pagelaran tersebut terdapat dua buah penginapan yang nuansanya sangat homy dengan latar pemandangan hamparan sawah.




Di Tembi Rumah Budaya ini juga sering diadakan pagelaran seni, seperti seni rupa, seni lukis, seni tari, maupun seni musik. Selain sebagai tempat pagelaran seni, di Tembi ini juga disediakan beberapa kamar sebagai tempat penginapan. Penginapan yang di sediakan di Tembi berkisar dari harga 400 ribuan hingga satu juta rupiah, tergantung dari fasilitas yang disediakan tentu saja. Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta dan mencari penginapan dengan nuansa pedesaan yang asri dengan latar belakang persawahan, lokasi ini dapat dijadikan salah satu refrensi untuk menginap dan melepas lelah.

Monday, August 1, 2011

Touring ke Pantai Nampu, Wonogiri



Berawal dari obrolan teman-teman SMA yang kebetulan sedang pulang kampung, kami akhirnya memutuskan untuk mengadakan kegiatan touring jelajah menggunakan sepeda motor. Hampir saja saya tidak jadi ikut karena tidak ada tebengan karena motor saya tinggalkan di Jogja. Pemberitahuan mendadak pun datang dan saya disuruh segera siap-siap untuk join di acara tersebut, kebetulan masih ada satu motor yang menganggur tidak ada yang bonceng. Jadilah saya dan rombongan yang seluruhnya berjumlah enam orang berangkat dari kota Sragen menuju ke Wonogiri. Perjalanan kami mulai sekitar pukul 09.00 pagi dengan judul destination no where to go karena kami masih belum fix mau menuju ke arah mana. Awalnya kami akan melakukan perjalanan menuju daerah Pacitan dengan sasaran pantai Klayar, tapi melihat jarak yang cukup jauh akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke pesisir selatan di wilayah Kabupaten Wonogiri. Kami masih ragu untuk mengunjungi pantai Nampu atau pantai Sembukan.


Tidak satu pun dari rombongan kami yang mengetahui jalan menuju pantai tersebut. Modal nekat saja, kepepetnya paling bertanya kepada penduduk sekitar mengenai arah menuju pantai. Sesampainya kota Wonogiri motor kami arahkan menuju Waduk Gajahmungkur yang terkenal itu, kali ini hanya melewati tidak untuk singgah. Motor kemudian kami arahkan menuju kecamatan Pracimantoro, setelah perempatan pasar Parcimantoro kami belok ke kiri dan beristirahat sejenak di pom bensin sekalian mengisi bahan bakar. Kami bertanya kepada satpam yang bertugas di pom bensin tersebut, syukurlah beliau menerengkan jalan menuju pantai Nampu, kira-kira jaraknya tidak begitu jauh dari pom bensin ini. Dari pom bensin, kami melanjutkan perjalanan lurus mengikuti jalan hingga menemukan perempatan besar lalu belok ke kanan. Oke selama perjalanan menuju perempatan ini mulai terasa medan yang rusak dan terkesan offroad. Serasa seperti jalan di daerah transmigrasi dalam hati saya, ini masih di wilayah Jawa tetapi suasananya sudah seperti di luar Jawa.
Belok kanan dari perempatan yang dimaksud, jalan mulai menanjak cukup tajam, hampir saja motor yang saya tumpangi tidak kuat untuk naik, akhirnya gantian saya yang mengendarai motor di depan. Jujur saya tidak terlalu menyukai medan yang seperti ini, karena membutuhkan konsentrasi yang ekstra dan saya menyebutnya “jalannya mesti mikir, mikir memasukkan dan mengurangi presnelling, mikir menggunakan rem depan rem belakang, belum lagi belokan yang cukup menikung”. Bagi yang menyukai tantangan, medan ini cukup untuk menguras adrenalin. Di sisi kiri dan kanan terlihat hutan jati, ladang penduduk, beberapa rumah penduduk di beberapa sudut, dan juga jurang, walau tidak terlalu curam dan menyeramkan –atau mungkin saya saja yang tidak terlalu memperhatikan- Untuk menuju pantai cukup lurus mengikuti jalan yang diaspal halus, jika ada belokan ke kiri hirukan saja.



Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, karena jalan yang naik turun dan cukup terjal akhirnya terbayarkan sudah dengan pemandangan pantai yang sangat indah, pasir putih, air laut yang jernih berwarna biru tua dan tebing-tebing karang yang kokoh berdiri. Pantai Nampu terletak di Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Perjalanan dari kota Wonogiri menuju pantai Nampu kami tempuh sekitar dua jam perjalanan.


Menurut saya karakteristik pantai Nampu ini hampir sama seperti pantai-pantai di daerah Wonosari, Gunung Kidul karena pantai ini memang terletak sederet. Untuk memasuki pantai ini terdapat retribusi sebesar Rp 2.000,00 untuk satu sepeda motor dan Rp 1.000,00 per orang. Pantai ini memang tidak terlalu luas tapi memiliki keindahan yang menakjubkan. Beberapa pedagang yang merupakan penduduk sekitar membuka lapak dagangan mereka yang rata-rata menjajakan minuman dan kelapa muda. Untuk menuju pantai sudah disediakan tangga untuk turun ke bawah. Pengunjung pantai ini memang tidak terlalu ramai, serasa privat beach. Hanya satu hal yang cukup disayangkan di sini adalah ulah para pengunjung yang tidak bertanggung jawab yang membuang sampah sembarangan di tepi pantai sehingga sampah-sampah yang berserakan tersebut menimbulkan kesan tidak sedap dipandang mata.



Menurut saya perjalanan yang cukup mendebakan akan terbayarkan dengan pemandangan pantai Nampu yang memanjakan mata. Tidak ada salahnya jika Anda sedang berkunjung ke Wonogiri, tak hanya waduk Gajahmungkur saja yang Anda kunjungi, pantai Nampu juga dapat dijadikan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tips ketika akan mengunjungi Pantai Nampu adalah kondisi fisik harus benar-benar prima, siapkan mental karena beberapa ruas jalan yang dilalui dalam keadaan rusak dan baru ada perbaikan ala kadarnya, jangan lupa menyiapkan bekal makanan karena sepanjang pengamatan saya pantai ini tidak menyediakan makanan yang memadai, tidak ada orang yang jualan seafood seperti pantai pada umumnya karena sepertinya penduduk sekitar tidak berprofesi sebagai nelayan.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com