Friday, June 24, 2011

Cokelat Roso "Taste of Jogja"

Akhirnya ujian akhir semester dan semua tugas-tugas tuntas saya jalankan, lega sekali rasanya bisa melewati semua dengan lancar tanpa halangan. Oke ujian dan kewajiban kuliah semester ini sudah berakhir itu artinya libur telah tiba dan saya mempunyai banyak waktu untuk jalan-jalan dan mengumpulkan bahan untuk blog, senangnya !


Berawal dari obrolan bersama teman kuliah ketika kita sedang mencari makan malam disebuah angkringan dekat kost, teman saya bercerita mengenai Cokelat Roso yang juga salah satu cokelat khas Jogja setelah dia membaca postingan saya mengenai cokelat yang kemarin. Saya pun tertarik untuk segera mencari dan mencicipi Cokelat Roso.


Cokelat Roso, oleh-oleh asli Jogja
Cokelat Roso taste of Jogja

Begitulah kira-kira slogan yang menjadi brand cokelat tersebut. Dengan rasa penasaran akhirnya saya googling untuk mencari informasi dan alamat gerai Cokelat Roso. Ah ternyata gerainya tak begitu jauh, Cokelat Roso terletak di Jalan Sultan Agung 46 Jogja atau pas di depan Puro Pakualaman. Gerainya mungil, dengan ciri khas arsitektur rumah Jawa tempo dulu. Tidak sulit menemukan gerainya karena berada di pinggir jalan rayadengan papan petunjuk yang besar dan cukup jelas.



Untuk varian rasa dari Cokelat Roso sendiri ada beberapa macam antara lain adalah

  1. Cokelat Roso Bener terdiri dari dark chocolate, milk chocolate, dan white chocolate.
  2. Cokelat Roso Kacang-an terdiri dari kacang mete, kacang almond, dan kacang hezelnut.
  3. Cokelat Roso Jejamuran terdiri dari jejamuran gula asam, jejamuran kunyit, dan jejamuran beras kencur.
  4. paket CUKRO (Cupid Cokelat Roso) terdiri dari dark chocolate, milk chocolate, dan white chocolate.
  5. Cokelat Roso BUTONG (Buah Gentong) yang terdiri dari cokelat dengan berbagai macam rasa buah seperti strawberry, blueberry, raspberry, apel, pisang, mangga, jeruk, durian, dan kopi. Untuk cokelat BUTONG ini kemasannya memang unik, yaitu cokelat kecil-kecil berbentuk bulat dengan rasa beraneka macam buah tadi, di masukkan ke dalam wadah kecil berbentuk gentong (semacam tempat penampungan air bagi masyarakat Jawa).

Untuk harga sendiri, cokelat batangan 100 gram maupun cokelat BUTONG ini dihargai Rp 15.000,00 per buah, dan untuk pembelian satu paket cokelat batang berisi 3 buah cokelat dengan berat masing-masing 100 gram dihargai Rp 42.000,00, lumayan lah hemat Rp 3.000,00. Bungkus Cokelat Roso juga unik gambarnya, ada gambar andong, becak, onthel, tugu Jogja, Taman Sari, keraton Yogyakarta dsb. Di bungkus bagian belakang terdapat keterangan gambar yang ada di depan bungkus tersebut. Menurut saya benar-benar unik, selain kita disuguhi rasa cokelat yang yummy juga menambah ilmu pengetahuan tentang hal-hal unik di Jogja.


Untuk kali ini saya kerasukan dan membeli dua paket cokelat, yaitu Cokelat Roso Kacang-an dan Cokelat Roso Bener, well semua cokelat tidak saya habiskan sendiri melainkan untuk oleh-oleh orang di rumah. Di gerai ini juga disediakan taster bagi pengunjung, hanya saja rasa cokelat yang disediakan terbatas, kali ini saya mencicipi cokelat jejamuan beras kencur. Hmmm rasa beras kencur baru terasa setelah cokelatnya lumer di mulut, unik rasanya.



Gerai Cokelat Roso sangat cozy, perpaduan unsur etnik dan tradisional Jawa dilihat dari bangunan dan tegelnya, dipadukan dengan aksesoris pemanis dan lighting yang pas, dijamin bakal betah berlama-lama berada di dalam gerainya. Untuk rasa cokelat tidak mengecewakan, menurut saya topping kacangnya perlu diperbanyak. Well, Cokelat Roso dapat dijadikan alternatif oleh-oleh ketika sedang berkunjung ke Yogyakarta.

Thursday, June 23, 2011

Bermain ATV di Pantai Depok




Pantai Depok merupakan salah satu pantai di wilayah Kabupaten Bantul, sederet dengan Pantai Parangtritis. Selain terkenal dengan kuliner seafoodnya, sekarang tempat wisata pantai yang satu ini juga mengembangkan permainan baru yaitu permainan ATV (All Terrain Vehicle), saya sih sering menyebutnya dengan sepeda motor roda empat. Biasanya kita menemui ATV lazim digunakan di lokasi perbukitan atau pegunungan maupun di sekitar perkebunan maupun persawahan.


Jika Anda berkunjung ke Pantai Depok tak ada salahnya mencoba permainan ATV ini untuk berkeliling di sekitar pantai. Untuk menyewa ATV kita harus membayar sebesar Rp 25.000,00 untuk menikmati permainan ini selama 15 menit. Lumayan lah untuk berkeliling di sekitaran pantai, mencoba cara baru selain dengan jalan kaki. 


Saturday, June 18, 2011

Berburu Cokelat Monggo


Oke setelah dari Pakualaman dan mengantarkan teman saya kembali ke Taman Budaya Yogyakarta untuk melanjutkan pekerejaannya, kembali pikiran saya melayang-layang ingin mencari tempat untuk mencari bahan buat blog. Awalnya pengen ke kawasan Malioboro karena jaraknya cukup dekat dengan Taman Budaya Yogyakarta, tapi tiba-tiba malah kepikiran ke kawasan Kotagede, bukan untuk mencari perak tapi berburu Cokelat Monggo langsung dari pabriknya. Tanpa banyak berfikir lagi saya langsung arahkan motor saya ke wilayah Kotagede. Dari Jogja kota menuju kawasan Kotagede ini memakan waktu tempuh sekitar 15 menit perjalanan. Kali ini saya melakukan perjalanan sendirian karena kebetulan teman-teman yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Yah tak apalah daripada tidak ada kerjaan di kost mending saya jalan-jalan :p


Memasuki kawasan Kotagede seperti memasuki mesin waktu dan Anda akan langsung merasakan nuansa kuno jaman-jaman Jawa klasik seperti jaman keraton dulu. Di wilayah ini memang terkenal dengan bangunan-bangunan kunonya yang cukup masih terawat, satu lagi, ketika Anda memasuki wilayah ini akan disambut dengan deretan toko-toko yang menjajakan kerajinan perak beraneka rupa dan beraneka harga tentu saja. Hmmm tujuan saya jalan-jalan ke Kotagede memang bukan untuk berburu perak jadi saya tidak mampir ke salah satu toko :p


Untuk menemukan lokasi pabrik dan outlet Cokelat Monggo ini tidak begitu sulit. Anda cukup berjalan ke arah Pasar Kotagede lalu menuju ke arah makan Raja-Raja Mataram, setelah itu jalan lurus mengikuti jalan kecil yang ada hingga mentok menemukan papan penunjuk kecil. Dari papan penunjuk itu tinggal belok ke kiri lurus sedikit sampai deh di lokasi. Memang sih agak membingungkan karena lokasi pabrik dan outlet Cokelat Monggo berada di tengah-tengah perkampungan penduduk.


Setelah memarkirkan motor saya langsung masuk ke dalam outlet sekaligus pabriknya. Dari luar bangunan ini memang cukup kecil tapi setelah masuk di dalam tempatnya sangat cozy banget, perpaduan klasik dan modern.



Masuk ke dalam outlet langsung disambut ramah oleh mbak-mbak frontliner nya dan ditawari untuk mencicipi tasternya. Hmmm menurut saya Cokelat Monggo terasa agak lebih pahit tapi malah lebih nikmat dibanding dengan cokelat-cokelat yang ada di pasaran seperti Silver Queen, Cadburry dan sebagainya. Untuk mencicipi tasternya pengunjung bebas mengambil berapa pun, tapi ya mesti tahu diri biar tidak malu-maluin :p


Untuk pilihan rasa sendiri ada beberapa jenis antara lain adalah :
     

kemasan 40 gram

  • Dark 58% kakao
  • Praline yang berisi krim kacang mede
  • Caramello yang berisi caramel
  • Strawberry



kemasan tablet 80 gram dan 100 gram
  • Red Chili
  • Kacang Mede Organik
  • Orange Peel
  • Macadamia
  • Jahe
  • Dark Tablet 58% Kakao
  • Dark Tablet 69% Kakao

Untuk kali ini saya membeli cokelat dua buah yaitu :
  • 1 Caramello 40 gram Rp 12.500,00
  • 1 Dark tablet 58% kakao 80 gram Rp 24.000,00
Sebenarnya sih masih pengen beli rasa yang lain, tapi berhubung saya mahasiswa dan anak kost jadi mesti tahu diri kalau tidak mau dompet saya jebol -_-
Selain untuk membeli produk Cokelat Monggo, di tempat ini Anda bisa melihat proses pembuatan cokelat langsung di pabriknya. Ada satu lagi yang unik dari Cokelat Monggo adalah bungkusnya yang memiliki gambar khas Jawa antara lain tokoh semar, petruk, bagong dalam pewayangan, Candi Borobudur, dan becak.


Produk Cokelat Monggo selain bisa dibeli di outletnya di Kotagede, produk ini bisa didapatkan di Circle K, Mirota Kampus, Mirota Batik, Carefour, dan beberapa toko di Jogja, namun ada selisih harga, lebih mahal sedikit tentu saja. Hmmm bagaimana? Anda penasaran? Jangan lupa membeli dan merasakan Cokelat Monggo ketika Anda sedang berkunjung di Yogyakarta.


Friday, June 17, 2011

Berburu Kuliner Rujak Es Krim di Kawasan Pura Pakualaman

Lama juga tidak menyentuh blog karena lagi kekurangan bahan buat nulis terutama bagian dokumentasinya. Lama tidak menjelajahi tempat-tempat yang menarik karena akhir-akhir ini kuliah saya sedang tidak dapat dikompromi, tugas-tugas datang silih berganti dan sekarang saya sedang menghadapi ujian akhir semester. Oke sih ini hanya sekedar curhat colongan saja :D


Untung siang ini saya sedang tidak ada jadwal jadi saya sempatkan untuk sejenak jalan-jalan sambil mencari bahan untuk nge-blog. Kali ini saya memang pengen hunting beberapa kuliner yang ada di Jogja, tepatnya sih kuliner-kuliner yang sederhana. Kali ini saya mencicipi rujak es krim, salah satu kuliner yang boleh dikatakan khas Jogja juga. Rujak es krim yang ada di Jogja yang cukup terkenal berada di daerah Pura Pakualaman. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum seperti Trans Jogja dan turun pas di shelter depan kompleks Pura Pakualaman. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau motor, dari arah Malioboro tepatnya di perempatan KM 0, Anda cukup belok ke kiri atau menuju ke arah timur lurus dan di kiri jalan nanti Anda akan tiba di kawasan ini. Jarak dari perempatan KM 0 sampai dengan Pura Pakulaman kurang lebih 7 km dapat ditempuh dengan waktu kira-kira 10 menit perjalanan karena jalan di menuju daerah ini cukup ramai.


Rujak es krim adalah makanan berbahan dasar buah-buahan yang diserut seperti rujak-rujak pada umumnya dan sedikit dimodifikasi dengan menambahkan campuran es krim, tapi yang dimaksud es krim di sini adalah es puter yang biasanya dijual oleh pedagang keliling. Sambal pada campuran rujak dibuat lebih cair dari sambal rujak pada umumnya. Rasa pedas, manis, sedikit asam, dan dinginnya sangat terasa di mulut, apalagi pas sekali dinikmati pada siang hari ketika cuaca cukup terik. Untuk satu porsi rujak es krim di Pakualaman ini dihargai Rp 3.000,00, sangat terjangkau untuk kantong anak kost. Sebenarnya tidak sulit juga untuk menemukan orang yang jualan rujak es krim ini. Hampir di berbagai sudut Kota Yogyakarta banyak orang yang berjualan rujak es krim.


Selain rujak es krim, kawasan di sekitar Pura Pakualaman ini juga menyediakan beberapa kuliner seperti bakso Malang yang biasa disebut bakwan kawi, nasi rames, soto dan sebagainya. Tapi kali ini saya memilih untuk membeli siomay, karena menu ini cukup terkenal dan recomended. Oke kali ini saya cukup kalap ketika mengambil racikan siomaynya, yaitu terdiri dari dua buah kentang, dua buah tahu, dua buah siomay, dan satu kol. Alhasil saya malah kekenyangan. Menurut saya racikan sambal pada siomay ini yang bikin beda, racikan sambal kacangnya kental, rasa manis, pedas, dan gurihnya sangat pas serta tekstur kacangnya masih terasa dalam racikan sambal tersebut. Untuk satu porsi siomay yang saya ambil tadi ditambah satu gelas es teh manis saya cukup membayar Rp 12.000,00, sebanding dengan jumlah dan rasanya. Jika Anda sedang mengunjungi Yogyakarta, jangan lupa mampir dan sempatkan waktu ke daerah Pura Pakualaman untuk mencicipi kuliner rujak es krim dan juga siomaynya.

Saturday, June 11, 2011

Menikmati Alunan Jazz Gratis di "Jazz Mben Senen"



Acara "Jazz Mben Senen" atau jazz setiap Senin adalah agenda pentas musik yang rutin diselenggarakan setiap hari Senin yang digelar di halaman Bentara Budaya Yogyakarta. Pagelaran musik ini rutin diselenggarakan oleh Komunitas Jazz Jogja, acara diselenggarakan setiap Senin malam mulai sekitar pukul 21.00 WIB. Sebenarnya sudah tau acara ini sejak lama di twitter hanya saja baru datang ke acaranya malam tadi (6/6). Ternyata ramai juga acara ini. Image  pertunjukan acara musik jazz yang identik dengan gedung mewah, atau cafe terkenal dengan harga tiket yang selangit dan orang-orang dari kalangan elit dan berpenampilan rapi tertampik di acara Jazz Mben Senen ini. "Nonton jazz ga harus mahal", itulah slogan yang sering diucapkan oleh MC acara. Ya memang para penontong acara musik ini beragam, mulai dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang memakai pakaian rapi jali, anak-anak muda dengan gaya rasta, anak-anak kuliahan yang haus akan hiburan gratis, musisi-musisi, dan juga ada beberapa warga negara asing juga yang ikut menonton acara jazz ini.


Walau acara ini gratisan bukan berarti kualitas musik yang disajikan juga biasa-biasa aja loh. Musisi-musisi yang berpartisipasi dalam acara Jazz Mben Senen  ini bukan musisi-musisi kacangan. Mereka adalah sekolompok orang yang penyuka musik jazz yang tergabung dalam Komunitas Jazz Jogja. Acaranya sangat menghibur, walau sebenarnya saya bukan penyuka musik jazz tapi saya merasa sangat terhibur. MC nya sangat atraktif dan sangat jenaka. Kesan santai serta semua kalangan dapat membaur sangat terasa di acara ini.


Untuk tempat duduk sendiri, panitia menyediakan beberapa deret kursi di sebelah selatan dan di sebelah utara disediakan tikar untuk duduk lesehan, ada juga yang duduk di sepanjang taman. Pada awal saya datang ketika acara baru saja akan dimulai, penonton masih terlihat belum begitu ramai, tapi semakin malam penonton yang berdatangan pun semakin banyak. Untuk yang merasa haus maupun lapar tak perlu khawatir, karena di sebelah timur terdapat sebuah angkringan yang menyediakan makanan dan minuman. Angkringan ini hanya khusus buka pada hari Senin pas acara "Jazz Mben Senen" ini. Sayang saya tak sempat menyambangi angkringan itu karena saya memang sama sekali tidak merasa lapar :p


Sekitar pukul 23.30 saya dan teman-teman duluan meninggalkan acara, padahal acara sedang seru-serunya, setelah penampilan salah satu bule yang ditunjuk langsung oleh si MC yang super kocak dan dikerjain habis-habisan untuk menyumbangkan suaranya. Lagu "This Love" nya Maroon Five dinyanyikan oleh bule duet dengan si MC dan juga ada seorang penonton yang tiba-tiba juga ditunjuk si MC untuk ikutan menyanyi. Benar-benar acara jazz yang menarik, atraktif dan penuh dengan humor dan bercandaan. Bagi yang berkunjung ke Jogja terutama pada Senin malam, agenda satu ini sayang sekali untuk dilewatkan.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com